Haedar Nashir, Simbol Moderatisme Islam yang Berkemajuan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 14 Desember 2019 13:09 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir telah dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang sosiologi pada Kamis (12/12) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Mengangkat judul pidato “Moderasi Indonesia dan Keindonesiaan: Perspektif Sosiologi”, buah pemikiran Haedar Nashir tersebut diapresiasi berbagai pihak, salah satu diantaranya yakni Mantan Wakil  Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla.

Ketika berbicara mengenai latarbelakang aktifitas sosial dan keilmuan, Pria kelahiran Bandung, 25 Februari tahun 1958 ini memiliki segudang pengalaman, diantaranya yakni pernah menjadi aktivis Dhworowati Cultural Institute, pada tahun 1980 – 1987, dosen Luar Biasa pada Fakuktas Dakwah UIN SUKA Yogyakarta, peserta Program Peneliti Agama pada Kementerian Agama RI, tahun 1993, pernah bergabung di Studi Lingkungan Hidup & Pembangunan Berkelanjutan yang diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup RI bejerjasama GTZ  di Berlin, Frankfurt, dan Mainz, Jerman tahun 2006, Pembimbing Disertasi/Program Doktor pada Sekolah Pascasarjana Program Sosiologi UGM, aktif mengajar pada program Doktor Pascasarjana UIN SUKA Yogyakarta, pernah meraih 71 Tokoh Berpengaruh Men’s Obsession pada tahun 2016, dan 72 Tokoh Berpengaruh Men’s Obsession pada tahun 2017.

Selain aktif diberbagai kegiatan sosial dan keilmuan, Haedar Nashir juga produktif menghasilkan karya buku, dari tahun 1997 hingga 2019 Haedar tercatat telah menulis 28 buah buku, diantaranya Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern, Pragmatisme Politik Kaum Elit, Perilaku Politik Elit Muhammadiyah, Dinamika Politik Muhammadiyah, Konstruksi Pemikiran Politik Ki Bagus Hadikusumo Islam, Pancasila dan Negara, Indonesia dan Keindonesiaan: Perspektif Sosiologis, Muhammadiyah ‘In Ideolojisini Anlamak (bahasa Turki), Muhammadiyah Abad Kedua, dan Dinamisasi Gerakan Muhammadiyah: Agenda Strategis Abad Kedua.

Dari deretan panjang karya dan sepak terjang Haedar, tergambar dengan jelas betapa kuat perhatian, komitmennya pada Islam dan keindonesiaan, yang semuanya bermuara pada moderasi yang autentik. Faham keislaman yang moderat, tengahan, damai dan toleran yang ditopang dengan kondisi sosial bangsa yang majemuk menjadikan Haedar mempunyai pemikiran, sikap dan tindakan yang meletakkan moderasi sebagai sebuah jalan menuju kedamaian dan kemajuan berbangsa. Moderasi politik Haedar adalah menjaga bangsa dan merawat keberagaman Bersama.

Dalam konteks Moderasi, Haedar adalah sosok yang anti kekerasan, dirinya sangat sensitif jika menyaksikan kekerasan dalam bentuk apapun. Dari karya-karya beliau tercermin pandangan keislaman dan keindonesiannya, yang merefleksikan pemikiran, sikap dan posisi Haedar sebagai seorang tokoh dan simbol dari Moderatisme Islam yang Berkemajuan.

Shared:
Shared:
1