Lazismu Kembangkan Filantropreneurship Lewat Program Ecoprint Merden

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 27 November 2019 10:39 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, DENPASAR — Tasyarufkan zakat secara progresif dan kembangkan konsep Filantropreneurship, Lembaga Amil Zakat Infak dan Shadaqah Muhammadiyah (LazisMu) tingkatkan perekonomian umat melalui kelompok perempuan desa.

Pupung Pursita, Mitra Profesional dan Pendamping Program Ecoprint Merden saat ditemuii tim media Muhammadiyah.id pada Selasa (26/11) menjelaskan, dipilihnya Ecoprint ini karena lebih muda prosesnya dari pada batik. Karena dengan memanfaatkan barang-barang di sekitar kita.

“Dengan keterbatasan waktu dan sumber daya manusia, Ecoprint dipilih karena lebih mudah dari batik. Orang tidak perlu memiliki keahlian untuk mencanting, melukis dan proses-proses lain yang memakan waktu cukup lama,” tuturnya.

Dalam menentukan motif kain yang akan di jadikan media ecoprint, cukup memanfaatkan daun-daun disekitar rumah. Dipilihnya lokasi di kampong salah satu alasannya adalah mudahnya akses mencari daun, bahkan tidak jarang daun yang berserakan dan membuat kotor halaman rumah juga bisa dimanfaatkan untuk pembuatan motif.

“Di desa itu ada gampahlah, masih banyak jenis pohon. Sampai sering kita memanfaatkan daun yang hanyut di pinggir kali atau sungai yang awalnya tidak berguna ternayta bisa jadi motif yang cantik,” kata Pupung.

Lebih tepatnya, sasaran pemberdayaan yang dilakukan atas kerjasama antara LazisMu PP dengan Wardah Kosmetik adalah di Desa Merden dan  Mertasari, Kecamatan Purwonegoro, Kabupaten Banjarnegara. Berawal dari anggota yang berjumlah 92 orang yang mayoritas kaum perempuan, kini anggota menyusut menjadi kurang lebih 80 orang.

Dipilihnya lokasi tersebut karena selain ingin meningkatkan keuntungan ekonomi, juga menginggat kesatuan warga kampong masih kental. Sehingga proses pendampingan dan produksi lebih terjaga, serta diharapkan lebih konsisten.

“Rentang umur kelompok yang kite berdayakan lumayan jauh. Jadi mulai ada yang masih SMA sampai dengan yang nenek-nenek. Terlebih kepada yang tua, semangat berbuatnya lebih kuat dan mereka merasa di masa tuanya lebih bermanfaat apabila mereka mampu menghasilkan sesuatu,” ujar Pupung.

Latar belakang anggota kelompok Ecoprint Merden ini kebanyakan adalah pedagang di pasar. Secara periodik, sepulang dari pasar ibu-ibu tersebut melanjutkan karyanya dengan membuat ecoprint bersama dengan kelompoknya masing-masing.

“Jadi setiap bikin satu kain selalu menjadi kejutan, karena setiap kita setelah produksi, setelah dibikin melalui dikukus dan menunggu dibuka mereka itu menunggu dan bertanya-tanya hasilnya kaya apa ya. Karena kejutan yang mereka dapatkan ini mampu memberikan semangat kepada mereka untuk membuat lagi,” katanya.

Kain ecoprint yang dibuat tidak akan pernah sama motifnya, karena berasal dari bahan yang unik dan metode celupnya pun demikian. Pendampingan yang dilakukan oleh LazisMu ini tidak serta-merta ingin mengalih profesikan anggota dampingan. Karena memang mereka sudah ada beberapa yang sudah merasa nyaman dengan profesinya saat ini.

Tapi disisi lain, pendampingan yang dilakukan juga membantu anggota yang awalnya bekerja di beberapa home industry yang bergaji pas-pasan. Mereka diberdayakan melalui pembuatan kain ecoprint untuk menambah penghasilan.

Untuk bahan pewarna, Pupung menerangkan bahan pewarnanya berasal dari bahan alami. Misalkan dari kayu secang, kayu mahoni, kayu jelawe, kayu teger. Serta ditambah dengan kapur dan tunjung dan untuk motifnya berasal dari dedaunan. (a'n)

Shared:
Shared:
1