Muhammadiyah Dinilai Mampu Memainkan Peran yang Signifikan dalam Perekonomian Indonesia

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 26 November 2019 14:52 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, DENPASAR — Mantan Ketua Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN), Sutrisno Bachir mengungkapkan, kemiskinan yang dialami umat muslim disebabkan percaya kepada takdir yang salah tafsir. Kepercayaan yang salah tersebut membuat umat Islam telah menentukan kelasnya hanya sebagai pengusaha-pengusaha kecil.

“Karena kesalahan tafsir terhadap takdir, menyebabkan kita (muslim) di negeri ini sudah menakar diri bahwa kelasnya hanya sebatas di Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Seakan takdir yang kita tentukan sendiri,” tuturnya pada Selasa (25/11) di acara Muhammadiyah International Business Forum (IMBF).

Pengusaha kelahiran Pekalongan 62 tahun lalu ini meminta kepada umat Muslim Indonesia untuk lebih berani lagi dalam membangun mimpi. Menurutnya, stereotype yang muncul bahwa orang muslim tidak pantas menjadi orang kaya juga disebabkan ke-minderan muslim Indonesia dalam bermimpi dan semangat mewujudkan mimpi tersebut.

“Umat muslim harus berani memiliki mimpi yang tinggi. Umat muslim harus berani melakukan pemikiran dalam berbisnis. Kita sering menjadi penonton, kalaupun pemain ya hanya pemain pinggiran,” ungkapnya.

Melihat Muhammadiyah, Sutrisno percaya bahwa Muhammadiyah bisa memainkan peran yang jauh lebih signifikan dalam perekonomian di Indonesia. Mengingat sumber daya potensial insani yang di miliki Muhammadiyah begitu melimpah.

Sehingga jika di awal berdirinya Muhammadiyah berani melakukan tajdid atau pembaharuan dalam bidang agama. Kini, Muhammadiyah tentunya harus berani melakukan pembaharuan pemikiran dalam ekonomi.

“Muhammadiyah harus mempelopori bidang tajdid, kini tajdid dalam bidang ekonomi melalui penafsiran ulang terhadap teks yg sesuai dengan keperluan ekonomi,” tambahnya.

Menurutnya, suatu Negara akan maju jika perekonomian maju dan berjalan dengan berkeadilan. Ketimpangan yang secara nyata dialami bangsa Indonesia harus dipangkas bahkan dihilangkan. Perputaran ekonomi yang hanya beredar di lingkaran kecil harus diperluas, jangan dibiarkan dan tumbuh suburkan.

Peran aktif organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah perlu untuk turut-serta mengubah maindset dan salah tafsir terhadap takdir yang menyebutkan bahwa, kelas umat Muslim hanya sebagai pengusaha kecil. Dibutuhkan keberanian dan kerja keras, Allah SWT berfirman dalam QS ar Ra’du ayat 11 bahwa tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mereka merubah diri mereka sendiri.

Muhammmadiyah harus menjadi motor melalui pemikiran yang Berkemajuan. Muhammadiyah itu harusnya ada di depan. Kader Muhammadiyah harus berani bermimpi, karena mimpi adalah ghiroh yang tumbuh dari dalam.

“Kita boleh ber-Muhammadiyah, masuk Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM). Akan tetapi harus mau belajar dengan siapa saja, termasuk dengan orang-orang yang dianggap musuh. Namun jangan cuma menjadi kaya, tapi kayalah yang membangun banyak sekolah, masjid, dan fasilitas yang bisa dirasakan manfaatnya oleh orang banyak,” pungkasnya. (a'n)

Shared:
Shared:
1