Muhammadiyah, Umat Islam dan Bangsa Indonesia Kehilangan Sosok Ilmuwan Sejati

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 21 November 2019 18:33 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, DEPOK – Kamis, (21/11) mendung menggelayut, tepat bakda zuhur, jenazah mendiang Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah almarhum Prof. Dr. Bahtiar Effendy dimakamkan di Pemakaman Lemperes Jl. KSU, Depok.

Upacara pemakaman berlangsung sangat sederhana dan khidmat. Selain kerabat almarhum, wajah sendu juga tersirat pada sorotan mata beberapa tokoh yang hadir, diantaranya Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, mantan Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi RI Jimly Asshiddiqie, dan Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005-2015, Din Syamsuddin.

“Kami merasa kehilangan karena beliau adalah sosok ilmuwan, pemikir, yang sangat mendalam dan komprehensif dan juga dalam memberikan masukan penuh dengan kecerdasan, kebajikan dan hikmah,” ungkap Haedar setelah upacara pemakaman usai.

“Beliau juga sosok yang diterima di semua pihak, terakhir beliau adalah salah satu pemrakarsa Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Kami mendoakan agar beliau dimaafkan, diampuni segala kesalahannya dan dimasukkan ke Jannatun-Na’im. Kami mengajak generasi muda mengikuti kebaikan beliau,” tutup Haedar.

Ada Mimpi Yang Belum Terwujud

Sementara menurut Din, almarhum dan dirinya lebih nampak seperti saudara kandung daripada sekadar sahabat.

“Kami sejak sama-sama kuliah di Fakultas Ushuluddin IAIN, saya duluan dua tahun dan kami bersama-sama melanjutkan studi ke Amerika pada 1986 dan selesai doktor juga bersama-sama. Bisa dibilang saya yang mengajak beliau masuk ke Muhammadiyah,” kenang Din.

“Sebagai ilmuwan, beliau kritis dan menyimpan kegusaran, kegeraman terhadap perkembangan politik di Indonesia. Saya selalu didorong-dorong untuk berbicara. Beliau adalah teman berdiskusi sekaligus berdebat yang seringkali keras. Ada yang bilang tidak ada yang bisa menaklukkan saya kecuali beliau dan sebaliknya. Beliau adalah penasihat politik, dan saya adalah penasihat spiritualnya,” imbuh Din.

Din menilai kepergian sosok almarhum bukan hanya kehilangan untuk Muhammadiyah, tetapi juga bagi umat Islam dan Indonesia. Sebab menurutnya, almarhum adalah satu dari sedikit ilmuwan yang punya praksisme tinggi dengan kerja nyata bagi perkembangan umat.

Selain tercatat sebagai penggagas berdirinya FISIP UIN Jakarta, almarhum juga menjadi salah satu penggagas didirikannya UIII.

“UIII saya tahu persis ikut digagas almarhum setelah beliau menyelesaikan amanatnya sebagai dekan FISIP UIN. Saya menyalurkan aspirasi ini kepada wakil presiden Jusuf Kalla yang kemudian meyakinkan Presiden. Itu pikiran besar almarhum,” ungkap Din.

Menurut Din, jasa almarhum bagi Muhammadiyah adalah upayanya dalam merintis internasionalisasi Muhammadiyah di mancanegara. Kini, banyaknya Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di mancanegara adalah hasil yang telah dirintis pada saat almarhum berkhidmat di Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasional (LHKI) PP Muhammadiyah.

“Mimpi yang belum terlaksana banyak. Tapi komitmen beliau pada politik Islam itu besar sekali. Beliau ingin ada partai Islam yang solid. Supaya ada koalisi strategis antara partai Islam dengan partai-partai berbasis masa Islam besar. Itu yang belum terwujud,” kenang Din.

Tepat pukul 00.00, Kamis (21/11) Prof. Bahtiar Effendi dinyatakan wafat saat menjalani perawatan di RSIJ Cempaka Putih. Sakit yang diderita almarhum terjadi lebih dari dua tahun ke belakang.

Setelah pemakaman, keluarga mendiang akan menggelar doa bersama selama tiga hari berturut-turut bakda Isya’ di Rumah Duka, Perumahan Gema Pesona Blok AL No. 7, Depok. (afandi)

Shared:
Shared:
1