Pentingnya Penguatan Jaringan Kelembagaan Petani

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 19 November 2019 16:13 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, MAGELANG — Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang adakan Temu Nasional Petani Multikultur pada 18 sampai 19 November 2019 di Hotel Safira, Kabupaten Magelang.

Membuka acara tersebut, Ahmad Ma’ruf, Wakil Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengatakan, petani tembakau yang tersebar di beberapa daerah mengalami penindasan oleh pemodal besar pabrik-pabrik rokok. Harga jual yang cenderung tidak stabil juga disebabkan monopoli kartel-kartelbesar.

“Ketakberdayaan yang dialami oleh petani tembakau disebabkan pemodal besar, terlebih harga jual mereka mengalami ketakadilan yang dimonopoli oleh pabrik-pabrik.Kita tidak serta-merta menolak tembakau sama sekali, melainkan yang harus benar-benar kita lawan adalah monopoli dagang yang hanya dikuasi oleh pemodal besar,” kata Ma’ruf.

Permainan tersebut menyebabkan petani tembakau mengalami rendahnya kesejahteraan, sehingga dalam penguatan ekonomi diperlukan trobosan melalui desertification plating Tobacco, Coffe dan Vegetable. Alternatif tanaman lain yang bisa dikembangkan atau dibudidayakan oleh petani adalah ubi jalar yang relatif lebih murah biaya perawatannya, dan harga jual yang juga relatif stabil.

“Dengan beralih dari tembakau ke bertanam singkong atau kopi, petani bisa lebih berdaya menentukan nasibnya sebagai market driver,” tambahnya.

Dosen Ilmu Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)inimenjelaskan, pemberdayaan tidak bisa dilakukan sepihak. Artinya petani tembakau yang ingin memperbaiki keadaan mereka harus menjalin jejaring dan membentuk kelompok. Dimulai dengan satu orang, mengajak lima orang lain dan terus berkembang seperti sistem sel. Strategi tersebut perlu dilakukan sebagai cara bersaing dengan kuasa modal besar.

Ketidakberdayaan yang dialami petani tembakau bukan hanya dikarenakan faktor internal dari mereka, tapi lebih dikarenakan faktor struktur sosial yang melingkupinya. Petani tembakau meskipun menenam di lahannya sendiri, tapi pada saat out farm atau pemasaran mereka mengalami ‘penconggokan’ yang dilakukan oleh pedagang besar yang berkelindan dengan pabrik-pabrik rokok di daerah mereka.

Acara yang digelar selama dua hari ini diikuti oleh petani tembakau yang bukan hanya berasal dari Jawa, tapi juga ada yang dari Lombok. Dalam sesi kedua acara tersebut juga diadakan testimoni petani tembakau yang berasal dari daerah yang mayoritas menanam tembakau, seperti Temanggung dan Magelang. Selain itu, juga diadakan penguatan jaringan kelembagaan dan diharapkan pada Temu Nasional ini menghasilkan rumusan rekomendasi yang diajukan kepada Presiden.

Shared:
Shared:
1