Pidato Milad 107 Tahun Ketum PP Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 19 November 2019 10:57 WIB

“Muhammadiyah Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”

Oleh: Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir

Dalam acara Milad ke-107 ini Muhammadiyah bersyukur kepada Allah serta berterimakasih kepada pemerintah dan semua pihak atas pengaunegarahan Gelar Pahlawan Nasional kepada Profesor KH Kahar Muzakkir. Beliau tokoh Muhammadiyah serta anggota Panitia Sembilan BPUPKI-PPKI, serta perintis diplomasi di Timur Tengah untuk pengakuan kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian alhamduillah dalam periode ini ikhtiar PP Munammadiyah didukung oleh banyak pihak telah berhasil memperjuangkan tiga tokohnya menjadi Pahlawan Nasional yaitu Ki Bagus Hahadikusumo (November 2015), Mr Kasman Singedimedjo (2018), dan Prof Kahar Muzakkir tahun 2019. Kita akan ikhtiarkan untuk pengusulan berikutnya bagi tokoh-tokoh seperti Ibu Hayyinah, Ibu Munjiyah, Prof HM Rasjidi, HM Roeslan Abdul Ghani, dan tokoh-tokoh lainnya yang layak diusulkan untukdiangkat menjadi Pahlawan Nasional. Mereka sungguh tidak berpamrih menjadi pahlawan, tetapi kita harus menghargai pengabdiannya, selain mengikuti jejak perjuangannya.

Milad tahun ini sekaligus menyambut Muktamar Muhammadiyah dan Muktamar Aisyiyah ke-48 pada 1-5 Juli 2020 di Solo/Surakarta Jawa Tengah dengan bertempat di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Kami harapkan warga Persyarikatan dari seluruh tanah air dan mancanegara dapat mempersiapkan dan menyemarakan syiar Muktamar tersebut. Bagi para penggembira hadirlah ke Solo dengan penuh kegembiraan. Bagi anggota, peserta, dan penggembira serta seluruh warga Persayarikatan sambut dan hadiri Muktamar dengan semangat ikhlas menjalin ukhuwah yang autentik untuk kemajuan Muhammadiyah, umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta sebagaimana terkandung dalam Reff  lagu Muktamar: “Di Solo jalin ukhuwah/Muktamar satukan langkah/Bersama majukan Indonesia/Di Solo jalin ukhuwah/Muktamar satukan langkah/Bersama cerahkan semesta/Sang Surya suluh peradaban”.

Para Tamu dan Hadirin yang saya hormati

Milad ke-107 tahun ini mengangkat tema “Muhammadiyah Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Dengan tema tersebut Muhammadiyah meneguhkan komitmen untuk terus berusaha memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta antara lain melalui gerakan mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai bagian dari misi dakwah dan tajdid dalam gerakannya.

Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam dan kekuatan pergerakkan nasional sejak berdiri sampai saat ini telah dan terus berjuang secara berkelanjutan dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa antara lain melalui program pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, publikasi, serta pembaruan paham dan pengamalan keagamaan yang mencerahkan kehidupan. Makna“mencerdaskan”ialah “menjadikan cerdas dan mengusahakan supaya sempurna akal budimanusiadalam kehidupannya”. Objek yang dicerdaskan bukan hanya manusianya, tetapi keseluruhan hidupnya yang menyangkut pencerdasan akal budi dan perilaku manusia, sistem, dan lingkungan umat atau bangsa yang luas cakupannya dalam perikehidupan sepanjang zaman.

Secara teologis usaha mencerdaskan kehidupan melekat dengan misi kerisalahan Islam. Misi “mencerdaskan” dimulai dari risalah “Iqra” sebagai Wahyu pertama Islam yang dibawa Nabi Muhammad dari Gua Hira. Risalah Iqra sungguh revolusioner dan transformasional ketika bangsa Arab kala itu berada dalam sistem dan budaya Jahiliyah. Iqra yang diajarkan Allah bersifat “profetik” yakni “Iqra bismi rabbikal ladzi khalaq” (Bacalah atasnama Tuhan yang telah menciptakan); “Khalaqal insana min ‘alaq” (Yang menciptakan manusia dari segumpal darah); “Iqra wa Rabbukal akram” (Bacalah dan Tuhanmu Maha Mulia); “Khalaqal insana maa lam ya’lam”, (Yang mengajarkan manusia dari apa-apa yang tidak mereka ketahui” (QS Al Alaq: 1-5).

Dengan tradisi iqra setiap muslim tidak hanya diajarkan untuk membaca ayat-ayat Quran tetapi juga ayat-ayat kauniyah atau ayat-ayat semesta. Iqra menurut para mufasir bukan hanya membaca secara verbal dan tekstual, tetapi keseluruhan makna yang tercakup arti “iqra” dalam literasi Arab seperti tafakur, tadabbur, tanadhar, tadzakur, serta berbagai aktivitas akal pikiran, keilmuan, dan pembacaan sejarah secara menyeluruh. Dalam perspektif Manhaj Tarjih iqra memiliki makna pada pemahaman keislaman dan semesta kehidupan secara bayani, burhani, dan irfani secara interkoneksi.

Risalah “mencerdaskan kehidupan” dalam Islam juga melekat dengan misi “Menyempurnakan akhlaq manusia” untuk mencerahkan akal-budi manusia. Hadis Nabi “Innama bu’istsu li-utammima makarima al-akhlaq” (bahwa sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia) merupakan pesan kerisalahan yang mendalam dan mendasar akan pentingnya membangun akal-budi manusia dalam wujud budi pekerti, karakter, mental, etika, dan pola perilaku manusia dalam keadaban sebagai insan paripurna atau insan kamil. Manusia diciptakan sebagai “fi ahsan at-taqwim”, sebaik-baik ciptaan, yang berbeda dengan makhluk lainnya, apalagi sangat berbeda dan tidak dapat dibandingkan dengan “robot” atau benda ciptaan manusia sehebat apapun kemampuannya sebagaimana kini manusia modern tengah gandrung dengan teknologi “artificial intelligence” atau“Kecerdasan buatan”.

Meskipun Andreas Kaplandan Michael Haenleinbegitu percaya akan kecerdasan Artificial Intelligence sebagai  “kemampuan sistem untuk menafsirkan data eksternal dengan benar, untuk belajar dari data tersebut, dan menggunakan pembelajaran entitas tersebut guna mencapai tujuan dan tugas tertentu melalui adaptasi yang fleksibel”, pada hakikatnya karya teknologi seperti sistem pakar, permainan komputer(games), logika fuzzy, jaringan saraf tiruan, dan robotikatidaklah memiliki akal-budi dan kecerdasan “fitrah” (aqlu-salim, lubb) sebagaimana dimilkki manusia. Benda-benda tekonolgis tersebut hanyalah ciptaan manusia, yang menurut Robert Marcuse, filosof dan sosiolog Mazhab Frankfurt, bahwa manusia tidak boleh menjadi makhluk satu dimensi (One-Dimentional Man) yang dikuasi oleh teknologi, sehingga pandangan hidupnya serba praktis, pragmatis,dan instrumental. Fungsi membangun peradaban harus dimulai dari membangun akal-budi dan kecerdasan fithrah, sedangkan teknologi sebagai salah satu faktor pendukung.

Dengan risalah Iqra dan membangun akhlak mulia yang mencerahkan akal-budi manusia, Nabi berhasil membebaskan bangsa Arab yang Jahiliyah menjadi bangsa yang berperadaban cerah dan mencerahkan dalam puncak risalah “al-Madinah al-Munawwarah”. Dari rahim peradaban Madinah itu kemudian Islam berkembang menjadi agama yang membuana dan menciptakan kejayaan peradaban semesta selama berabad-abad di pentas sejarah dunia.

Kelahiran Muhammadiyah

Dalam sejarah kelahiran Muhammadiyah tradisi Iqra dan membangun akal-budi yang berkaitan dengan usaha mencerdaskan kehidupan umat dan bangsa diajarkan sejak awal oleh Kyai Dahlan. Kyai mengajak  agar orang Islam menggunakan  kecerdasan “akal yang suci-murni” dan “berpikiran maju”. Lawan maju dan cerdas ialah “bodoh” dan “jumud”. Dalam Pidato Sidang Tahunan 1921yang berjudul “Tali Pengikat Hidup”,Kyai Dahlan menyampaikan pandangan, kenapa orang mengabaikan dan menolak kebenaran, hal itu karena lima sebab yaitu: (1) Bodoh, ini yang banyak sekali, (2) Tidak setuju kepada orang yang ketempatan (membawa) kebenaran, (3) Sudah mempunyai kebiasaan sendiri dari nenek moyangnya, (4) Khawatir tercerai dengan sanak-saudara dan teman-temannya, dan (5) Khawatir kalau berkurang atau kehilangan kemuliaan, pangkat, kebesaran, kesenangannya, dan sebagainya.

Kyai Dahlan kemudian mengingatkan agar orang Islam mengembangkan pemikiran seputar lima hal yaitu; (1) Orang itu perlu dan harus beragama, (2)  Agama itu pada mulanya bercahaya, berkilau-kilauan, akan tetapi makin lama makin suram, padahal yang suram bukan agamanya, akan tetapi manusianya yang memakai agama, (3) Orang itu harus menurut aturan dari syarat yang sah dan yang sudah sesuai dengan pikiran yang suci, jangan sampai membuat keputusan sendiri, (4) Orang itu harus dan wajib mencari tambahan pengetahuan, jangan sekali-kali merasa cukup dengan pengetahuannya sendiri, apalagi menolak pengetahuan orang lain, dan (5) Orang itu perlu dan wajib menjalankan pengetahuannya yang utama, jangan sampai hanya tinggal pengetahuan saja (Syukriyanto & Mulkhan, 1985 : 4).

Dalam pelajaran keempat dari Tujuh Falsafah Kyai Dahlan sebagaimana dinukil Kyai Hadjid, Pendiri Muhammadiyah itu menyatakan, “Manusia perlu digolongkan menjadi satu dalam kebenaran, harus bersama-sama menggunakan akal fikirannya, untuk memikir, bagaimana sebenarnya hakikat dan tujuan manusia hidup di dunia. Apakah perlunya? Hidup di dunia harus mengerjakan apa? Dan mencari apa? Dan apa yang dituju? Manusia harus menggunakan fikirannya untuk mengoreksi soal i’tikad dan keyakinannya, tujuan hidup dan tingkahlakunya, mencari kebenaran yang sejati. Karena kalau hidup di dunia hanya sekali ini sampai sesat, akibatnya akan celaka, dan sengsara selamanya”. Pendapat tersebut dikaitkan dengan ayat ke-44 Surat Al-Furqan:

Artinya: “Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)”.

Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Muhammadiyah dalam sejarah perjuangan bangsa sepanjang gerakannya memiliki komitmen dan tanggungjawab tinggi untuk memajukan kehidupan bangsa dan negara sebagaimana dicita-citakan para pendiri bangsa. Para tokoh Muhammadiyah  yaitu K.H. Ahmad Dahlan, Agus Salim, K.H. Mas Mansyur, Ki Bagus Hadikusumo, Ir Soekarno, Kahar Muzakkir, Kasman Singodimedjo, Panglima Besar Jenderal Soedirman, Ir. Djuanda, Hamka, dan tokoh-tokoh lainnya; maupun para tokoh Aisyiyah yaitu Nyai Walidah Dahlan, Siti Hayyinah, Siti Munjiyah, serta para pemimpin-pemimpin lainnya pasca kemerdekaan hingga era terakhir, adalah tokoh-tokoh cerdas nan arif bijaksana serta telah berkiprah aktif dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Mereka adalah bapak dan ibu pertiwi yang melahirkan NKRI tercinta ini.

Muhammadiyah secara organisasi telah berbuat senyata-nyatanya untuk mencerdaskan dan memajukan kehidupan bangsa di bidang pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat. Apa yang selama ini dikerjakan Muhammadiyah telah diakui oleh masyarakat luas dan juga oleh Pemerintah Republik Indonesia. Dalam kerangka itu, pemerintah menetapkan K.H. Ahmad Dahlan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 657 tanggal 27 Desember 1961, dengan pertimbangan sebagai berikut: (1) kepeloporan dalam kebangunan umat Islam Indonesia untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang harus belajar dan berbuat; (2) memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya, ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan dan beramal bagi masyarakat dan umat; (3) memelopori  amal-usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangunan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam; dan (4) melalui organisasi Aisyiyah telah memelopori kebangunan wanita bangsa Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria.

Setelah Indonesia merdeka, pada berbagai periode pemerintahan hingga periode reformasi, pengabdian Muhammadiyah terhadap bangsa dan negera terus berlanjut. Khidmat kebangsaan ini didorong oleh keinginan yang kuat  agar Indonesia mampu melangkah ke depan sejalan dengan cita-cita kemerdekaan. Inilah bukti bahwa Muhammadiyah benar-benar “berkeringat” di dalam usaha-usaha mencerdaskan dan memajukan kehidupan bangsa, lebih khusus di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial.

Gerak pendidikan Muhammadiyah, selainpada aspek kesehatan dan lainnya, tersebar di seluruh tanah air hingga ke pelosok-pelosok terjauh, terdepan, dan tertinggal dari wilayah  Negara Kesatuan Republik Indonesia.Semua usaha Muhamamdiyah tersebut dilakukan dilandasi spirit amal shaleh tanpa pamrih dalam etos “sedikit bicara banyak bekerja” serta “berilmu amaliah dan bermal ilmiah”. Dalam narasi filosofi pendidikan Muhammadiyah, bahwa Muhammadiyah bekerja untuk: (1) Mendidik manusia agar memiliki kesadaran ilahiah, jujur, dan berkepribadian mulia; (2) Membentuk manusia berkemajuan yang memiliki jiwa pembaruan, berfikir cerdas, kreatif, inovatif, dan berwawasan luas; (3) Mengembangkan potensi manusia berjiwa mandiri, beretos kerja keras, wirausaha, dan kompetetif; (4) Membina peserta didik agar menjadi manusia yang memiliki kecakapan hidup dan ketrampilan sosial, teknologi, informasi, dan komunikasi; (5) Membimbing peserta didik agar menjadi manusia yang memiliki jiwa, daya-cipta, dan kemampuan mengapresiasi karya seni-budaya; dan (6) Membentuk kader bangsa yang ikhlas, bermoral, peka, peduli, serta bertanggungjawab terhadap kemanusiaan dan lingkungan.

Muhammadiyah meyakini bahwa Indonesia dapat mencapai tujuan untuk menjadi negara dan bangsa yang berkemajuan di tengah dinamika global sarat tantangan sekaligus dapat menyelesaikan masalah-masalah besar dirinya manakala elite dan warganya cerdas akal budi, pikiran, dan tindakannya. Kebijakan-kebijakan negara pun baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif serta institusi kenegaraan lainnya jika dibangun di atas prinsip-prinsip pemikiran yang cerdas serta tidak terjebak pada kebodohan. Kebijakan-kebijakan negara semestinya juga cerdas dan mencerdaskan, sehingga membuat rakyat semakin cerdas hati, pikiran, dan tindakannya. Dimensi kecerdasan bangsa tentu harus bersifat utuh sebagaimana filosofi yang diletakkan para pendiri Indonesia tentang “Mencerdaskan kehidupan bangsa”. Bukan kecerdasan instrumental yang hanya mengandalkan kemampuan kognisi dan skill teknik atau teknologis belaka, tetapi menyangkut kecerdasan akal budi dalam khazanah karakter akhlak mulia dan life-skill yang utuh.

Karenanya jika ingin menjadikan Indonesia Maju maka bawalah negeri tercinta ini sebagai negara dan bangsa yang berkecerdasan  di atas fondasi nilai-nilai luhur yang kokoh sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 dan daya hidup bangsa yang menjujungtinggi Agama, Pancasila, dan Kebudayaan bangsa. Artinya kemajuan Indonesia itu bukan hanya fisik dan lahiriah semata, tetapi harus disertai nilai-nilai bermakna yang bersumber pada Agama, Pancasila, dan kebudayaan luhur bangsa. “Indonesia itu bernyawa”, ujar Soepomo ketika berpidato di BPUPKI tahun 1945, yang mengandung makna jangan jadikan ia sekada ragad fisik tanpa sukma. Dalam meraih Indonesia berkemajuan di tengah tantangan dunia yang semakin kompetitif di era revolusi Industri 4.0 dengan segala masalah dan tantangannya maka diperlukan kualitas sumberdaya manusia Indonesia yang berkualitas unggul, yakni manusia Indonsia yang  cerdas berkarakter utamadan berkemampuan  tinggi. Dalam salah satu frasa lagu Indonesia Raya berkumandang pesan: “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”. Proses membangun jiwa-raga dan akal-budi bangsa yang berkecerdasan utama itu bukanlah pekerjaan gampang dan instan, tetapi sungguh merupakan pekerjaan berat berkelanjutan sepanjang hayat Indonesia.

Pada posisi dan peran kebangsaan inilah Muhammadiyah terus berkomitmen dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa dan berkiprah tak kenal lelah untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa dan negara yang benar-benar  bersatu, berdaulat, maju, adil, dan makmur sebagaimana cita-cita para pendiri negeri.Semoga Allah SWT senantiasa melindungi umat Islam dan bangsa Indonesia dalam anugerah dan kekuasaan-Nya. Nashrun min Allah wa fathun qarib.

Shared:
Shared:
1