Agung Danarto Paparkan Infiltrasi Berbagai Aliran yang Menerpa Umat Islam

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 17 November 2019 23:01 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, SLEMAN — Dalam usianya yang lebih satu abad, Muhammadiyah sudah menjadi gerakan yang mapan. Amal usahanya mencapai puluhan ribu, jaringannya sudah menaungi hampir seluruh pelosok penjuru, bahkan sudah menembus batas sekat Negara. Serta sebagai gerakan dakwah, Muhammadiyah bergerak berdasar kepada Al Qur’an dan As sunnah al Maqbullah yang dipahami dengan menggunakan akal fikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam.

Hal tersebut diungkapkan oleh Agung Danarto, Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah ketika menyampaikan materi tentang “paham keagamaan yang berkembang dan infiltrasi gerakannya dalam Muhammadiyah” dalam pleno IX Tanwir II PP ‘Aisyiyah periode 2015-2020 di Kampus Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta pada Ahad (17/11).

Agung menerangkan, dalam perjalanan lebih dari satu abad, Muhammadiyah termasuk ‘Aisyiyah banyak mendapat infiltrasi dari berbagai aliran maupun organisasi paham keagamaan yang hilir-mudik yang juga menerpa umat Islam Indonesia secara umum. Ada diantaranya yang datang terus layu, tapi ada yang mendapat sambutan antusias dari kalangan umat Islam Indonesia. Termasuk yang saat ini sedang tren adalah aliran Islam transnasional dan Islam populer.

“Diantaranya adalah aliran Salafi yang didalamnya ada Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh (JT), serta yang merupakan produk lokal seperti Majelis Tafsir Al Qur’an (MTA). Kelompok-kelompok tersebut banyak mengalami persinggungan bahkan terjadi infiltrasi gerakan mereka terhadap gerakan Muhammadiyah,” ungkap Agung.

Meskipun memiliki titik singgung,  misalnya aliran Salafi dan Muhammadiyah juga memiliki titik simpang. Diantaranya adalah dalam memandang kaum perempuan. Peran perempuan menurut Muhammadiyah memiliki peran domestik dan publik. Perempuan boleh menjadi pejabat publik dan boleh bepergian tanpa mahrom bila keadaan aman dan terjaga dari fitnah. Sementara menurut Salafi, perempuan adalah sektor domestik, sedangkan sektor publik adalah milik laki-laki.

“Dalam hal pendidikan Muhammadiyah menganggap laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama untuk mendapat pendidikan setinggi-tingginya di semua bidang ilmu. Gagasan tersebut kemudian melahirkan organisasi perempuan Islam yang mampu mandiri, bahkan mampu mendirikan kampus yang dikelola secara  mandiri,” tuturnya.

Sementara dalam persoalanrasionalitas, Muhammadiyah berpandangan bahwa rasionalitas dan pengembangan ilmu sosial diperlukan untuk memahami teks dan untuk membangun peradaban manusia yang maslahah dan Islami.

Shared:
Shared:
1