Mu'allimin Lakukan Peletakan Batu Pertama Masjid Hajah Yuliana

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 17 November 2019 01:41 WIB
MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL— Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Bambang Soesatyo mengapresiasi langkah Muhammadiyah dalam mewujudkan masjid yang terintegrasi dengan klinik dan perpustakaan modern.
 
Hal tersebut disampaikannya dalam peletakan batu pertama pembangunan Masjid Hajah Yuliana di Kampus Madrasah Mu’alimin Muhammadiyah Yogyakarta, Sedayu,
pada Sabtu (16/11).
 
“Yang terpenting bukan masjidnya, tapi bagaimana cara kita memuliakannya, meramaikannya, dan mengajak sesama muslim untuk turut meramaikan masjid. Karena masjid sejatinya adalah tempat mengadu segala galau, yang di dalamnya memberikan ketenangan," terangnya. 
 
Masjid, menurut Bambang juga sebagai tempat bertafakur, bermunajat dan menjernihkan pikiran. Maka masjid juga sebagai solusi atas segala persoalan kemanusiaan yang mendera dan mengkeringkan keruhanian manusia. Tempat berlari yang paling tepat menurutnya adalah masjid, bukan media sosial atau dunia maya/digital yang tergengam ditangan dalam bentuk smartphone.
 
Sehingga, kemegahan bangunan masjid tidak kosong namun dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Selain itu, tambah Bamsut, masjid adalah tempat menebar dan menumbuhkan cinta sehingga peran masjid memancarkan nilai-nilai humanisme.
 
Sementara, Ketua Umum Pimpianan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang aktif dalam pencerdasan bangsa melalui pembangunan amal usaha pendidikan, dalam kesempatan kali ini adalah Mu’allimin. Sebagai madrasah yang dibangun langsung oleh KH Ahmad Dahlan, Madrasah Mu’allimin merupakan representasi gagasan Ahmad Dahlan tentang penyatuan system pendidikan Islam dan Barat.
 
Haedar berharap, pembangunan Masjid Hajah Yuliana di Kampus Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah bisa mendemonstrasikan perpaduan antara kemodernan dan tradisionalitas. Serta sebagai representasi semangat mengabdi guna menciptakan generasi birrul wa lidain. Harapan tersebut merupakan cita luhur yang telah diajarkan Ahmad Dahlan sejak pertama mendirikan Madrasah ini.
 
“Sebagai sekolah pertama yang didirikan Ahmad Dahlan yang memberikan pelajaran dengan nilai-nilai Islam berkemajuan. Pembaharuan yang dilakukan oleh Dahlan juga tidak lepas sama sekali dari dasar budaya Indonesia.” kata Haedar.
 
Meskipun banyak melalangbuana kebeberapa Negara dan mencerap banyak ilmu dari banyaknya sumber bacaan, Ahmad Dahlan menurut Haedar merupakan ulama yang tetap memiliki genuine atas gagasan pembaharuan yang dilakukan. Sehingga Muhammadiyah selalu di garis tengahan, hal ini yang membuat kekuatan Muhammadiyah tidak bisa ditarik ulur oleh kekuatan lain, termasuk politik praktis. 
 
“Pendidikan adalah invesatasi masa depan, bukan hanya sebatas retorika. Kita berbuat sesuatu tidak selalu lewat megaphone, tapi kita senyap namun tetap terus aktif bergerak. Kuncinya adalah kesungguhan, keikhlasan, ketulusan dan kesabaran. Hal ini yang menjadi keyakinan bahwa Muhammadiyah selalu berada di garisnya.” pungkasnya.
 
Hadir dalam acara tersebut, Ketua Tim Pengembangan Muallimin Ahmad Syafii Maarif, pengusaha Yendra Fahmi beserta istri, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo beserta istri, Pembina Yayasan Sinar Mas Badrodin Haiti, Ketua KEIN Soetrisno Bachir, Kapolda DIY Ahmad Dofiri, Direktur Mualimin Aly Aulia, Sekretaris PP Muhammadiyah Agung Danarto, Bendahara PP Muhammadiyah Marpuji Ali. (a'n
Shared:
Shared:
1