Hadiri Tanwir II Aisyiyah, Menko PMK Singgung Soal Stunting Hingga Pembekalan Calon Pengantin

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 17 November 2019 01:10 WIB
MUHAMMADIYAH. IDSLEMAN- Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menjadi pembicara kunci dalam Pembukaan Tanwir II ‘Aisyiyah, di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (16/11). Muhadjir mengapresiasi penyelenggaraan Tanwir II ‘Aisyiyah ini dengan mengambil tema yang tepat, yaitu Dinamisasi Gerakan Menebar Islam Berkemajuan. Menurut Muhadjir, Gerakan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang berlandaskan Islam Berkemajuan telah dan akan terus berperan dalam mewujudkan Indonesia Berkemajuan sebagaimana menjadi cita-cita bersama bangsa ini. 
 
Dalam kesempatan tersebut Muhadjir menyampaikan bahwa arah dan prioritas pembangunan ke depan telag bergeser dari penguatan infrastruktur menjadi penguatan pembangunan manusia sebagaimana tertera dalam Visi Misi pemerintah Presiden Jokowi melalui kabinet Indonesia Maju. Dengan demikian, upaya-upaya tersebut menjadi tanggung jawab besar dari Kementrian Koordinator PMK yang mengkoordinir 7 Kementrian dan 14 Lembaga. 
 
Tujuan pembangunan manusia Indonesia, ungkap Muhadjir adalah menciptakan manusia yang unggul dan maju serta mampu berkompetisi. Ia kemudian menyebut fase-fase penting dalam kehidupan manusia yang berpengaruh dalam mewujudkan manusia yang unggul dan maju, yaitu mulai Prenatal, 1000 hari kehidupan, anak usia dini, remaja, hingga usia produktif.
 
Meski begitu, Muhadjir menyampaikan, bahwa Indonesia juga menghadapi problem dalam mewujudkan manusia unggul, antara lain problem stunting. Muhadjir menyebut bahwa angka stunting di Indonesia sekitar 27,4% bahkan terdapat data yang menyebut hingga 30,8%. Dengan begitu, setiap sepuluh anak Indonesia, terdapat 3 anak yang mengalami stunting. 
 
Stunting sendiri, papar Muhadjir, ditentukan sejak prenatal. “Kita tidak bisa tidak membangun manusia Indonesia dari hulu, karena tidak bisa dicegah di tengah tengah. Kalau hulu sudah bagus akan ada harapan dari perjalanan. Oleh karena itu menumbuhkan manusia yang unggul berdaya saing harus dimulai dari prenatal karena menjadi faktor penentu dan itu dapat diawali melalui pendidikan sejak dari remaja. 
 
Terkait pencegahan dan penanganan stunting ini, ‘Aisyiyah sendiri sejak awal telah konsen pada isu-isu kesehatan ibu dan anak. Noordjannah menyebutkan bahwa pada tahun 1930-an, ‘Aisyiyah telah menyelenggarakan Kongres Bayi, yaitu kegiatan edukasi dan layanan pemeriksaan kesehatan bayi, dan kegiatan itu dilakukan hingga ke desa.
 
Upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak tersebut, tambah Noordjannah, tetap menjadi perhatian ‘Aisyiyah hingga saat ini sesuai dengan perkembangan zaman. Upaya tersebut diwujudkan ‘Aisyiyah dengan penyediaan layanan kesehatan ibu dan anak oleh klinik hingga RS ‘Aisyiyah; serta upaya dakwah pemberdayaan dan advokasi kesehatan ibu dan anak di komunitas. 
 
Tri Hastuti Nur Rochimah, Sekretaris Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah menjelaskan, bahwa untuk mencegah stunting, ‘Aisyiyah antara lain telah menginisiasi program Rumah Gizi, yaitu upaya peningkatan nutrisi berbasis komunitas, yang mencakup 7 program. Pertama, edukasi gizi baik kepada remaja putri, ibu hamil, ibu menyusui, hingga ibu dengan balita. Kedua, konseling menyusui bagi ibu hamil dan ibu menyusui yang dilakukan oleh kader ‘Aisyiyah di komunitas. Ketiga, praktik pengolahan makanan bergizi, untuk memmberikan edukasi tentang kandungan gizi yang dibutuhkan anak dan edukasi teknik pengolahan makanan bergizi untuk memastikan makanan yang diberikan atau dikonsumsi anak mengandung gizi yang dibutuhkan.  Keempat, Pemberian makanan tambahan. Kelima, kebun/kolam/peternakan gizi, yaitu upaya ketahanan pangan nasional melalui kebun gizi, kolam gizi dan peternakan untuk menyuplai kebutuhan gizi keluarga termasuk protein yang dibutuhkan bagi pertumbuhan anak. Keenam, program sanitasi dan PHBS, karena buruknya sanitasi berkontribusi pada kasus stunting. Ketujuh, pelibatan kelularga dan tokoh agama. Keluarga dalam hal ini suami/ayah maupun nenek memiliki peran penting dalam memberikan dukungan pemenuhan gizi keluarga termasuk pemberian ASI Eksklusif. Demikian halnya dengan pentingnya keterlibatan tokoh agama yang dapat memberikan edukasi terkait nutrisi dan pencegahan stunting dalam perspektif Islam Berkemajuan. 
 
Selain pemberdayaan di komunitas melalui Rumah Gizi, tambah Tri Hastuti, kader ‘Aisyiyah juga melakukan advokasi desa dengan mendorong peraturan desa tentang kesehatan reproduksi dan pemenuhan nutrisi, serta mengadvokasi alokasi dana di desa untuk pencegahan stunting, seperti pembiayaan bagi program Rumah Gizi, pelatihan konseling menyusui, kebun atau kolam gizi, dan insentif bagi kader sebagai penggerak di masyarakat. 
 
Muhadjir kemudian menyebut juga tentang pentingnya pembekalan bagi calon pengantin baru, “Penting adanya pembekalan sungguh-sungguh, bukan hanya sepotong, juga bukan hanya soal agama, tetapi juga multi aspek untuk menyiapkan keluarga yang sehat, karena akan menentukan lahirnya generasi bangsa yang unggul dan maju.” Muhadjir mengungkapkan bahwa sekitar 45 persen rumah tangga di Indonesia dengan status miskin atau punya potensi miskin. Bahkan dalam konteks kesehatan, tambahnya, terdapat 135 juta penduduk Indonesia yang rentan menjadi miskin karena terdampak sakit. 
 
Menko PMK yang baru dilantik pada Oktober lalu ini menegaskan pentingnya upaya-upaya untuk menyiapkan keluarga sakinah. Upaya tersebut, tambah Muhadjir, selaras dengan program-program ‘Aisyiyah dan konsep keluarga sakinah ‘Aisyiyah. ‘Aisyiyah sendiri di beberapa provinsi bekerjasama dengan Kementrian Agama telah melakukan program bimbingan perkawinan bagi calon pengantin maupun remaja untuk mencegah perkawinan anak dan mempersiapkan keluarga berkualitas. Selain itu, ‘Aisyiyah juga mengelola program Sekolah Keluarga Sakinah bagi pasangan yang telah berkeluarga untuk meningkatkan kapasitas pasangan dalam mewujudkan keluarga sakinah yang saling memuliakan.  
 
Muhadjir menyayangkan banyak sekali calon pengantin  yang Bonek atau bondo nekat, tidak menghitung atau merencanakan nanti makan apa, tinggal di mana, sehingga dikhawatirkan akan menjadi rumah tangga miskin baru.
 
Oleh karena itu, menurut Muhadjir, penting untuk mengidentifikasi pasangan yang ingin menikah, benarkah mereka siap untuk menikah dengan kompleksitas kehidupan setelahnya. Muhadjir bahkan mengusulkan untuk mengantisipasi munculnya rumah tangga miskin baru dengan program bimbingan masuk lapangan pekerjaan bagi pasangan yang akan menjadi pengantin.
 
“Dengan begitu, pasangan ini dapat dilatih pelatihan tertentu, kalau sudah mahir, dapat dipinjami modal kredit KUR, agar setiap rumah tangga baru mempunyai kepastian mata pencaharian. Jika tidak, Muhadjir mengingatkan, akan bertambah rumah tangga miskin baru, anak yang lahir tumbuh tidak optimak, sehingga tidak dpaat menjadi manusia produktif. 
 
Muhadjir juga mengingatkan tentang bonus demografi yang akan dialami Indonesia pada 2036 nanti, ketika jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dari usia yang tidak produktif. Menurutnya, jika manusia usia produktif bekerja, mereka akan memberikan tiga hasil, pertama, bagi dirinya sendiri, menghidupi yang tidak produktif, dan dapat menabung atau saving dan berinvestasi. Besarnya saving sendiri akan menentukan Indonesia sebagai negara maju sehingga Indonesia tidak termasuk dalam kategori negara dengan pendapatan menengah-rendah. 
 
Dalam forum pembukaan Tanwir, Muhadjir secara terang menyebutkan pentingnya bersinergi dengan ‘Aisyiyah yang banyak bekerja pada isu-isu pembangunan manusia dan kebudayaan tersebut. Ia berharap, dakwah Islam Berkemajuan ‘Aisyiyah dapat meningkatkan pembangunan manusia Indonesia menuju manusia unggul dan maju untuk terwujudnya Indonesia Berkemajuan. 
 
Shared:
Shared:
1