Buka Tanwir II Aisyiyah, Ini Pesan Haedar Nashir

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 17 November 2019 01:00 WIB
MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir, menyampaikan perspektif pandangan Islam berkemajuan dalam manhaj pemikiran Muhammadiyah agar menjadi rujukan pundamental bagi keluarga besar ‘Aisyiyah dalam Sidang Tanwir 2-nya.
 
Dikatakan Haedar,  Islam yang berkemajuan itu bukan mazhab, tetapi perspektif yakni berupa pandangan Muhammadiyah yang menjadi satu kesatuan dari manhaj tarjih.
 
“Yang prinsip pertama ialah arruju ilal qur’an wa sunnah dengan mengembangkan ijtihad dan akal pikiran yang sesuai dengan jiwa ajaran islam, itulah prinsip islam berkemajuan,” kata Haedar, Sabtu (16/11) dalam Pembukaan Tanwir 2 ‘Aisyiyah bertempat di Auditorium Gedung B Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta. 
 
Maka, lanjut Haedar, Kyai Dahlan dan Nyai Dahlan hadir untuk melahirkan Muhammadiyah juga Islam yang berkemajuan, dengan mengembangkan ijtihad dan memajukan aspek akal pemikiran itu salah satu aspek penanda pemikiran Muhammadiyah, bahwa Al-qur’an dan assunnah sesuatu yang sempurna dan menjadi rujukan dan menjadi rujukan Islam.
 
Selain itu,  Haedar juga mengatakan perlunya pembaharuan atau tajdid maka Muhammadiyah mengembangkan pemahaman al-quran dan Sunnah Nabi dengan ijtihad dan akal pikiran yang sesuai dengan ajaran Islam, sebagaimana bisa dibaca melalui matan keyakinan dan cita-cita Muhammadiyah.
 
“Dalam konteks memahami islam dalam manhaj tarjih, ini prinsip yang kedua. Muhammadiyah melakukan pendekatan secara bayani, burhani dan irfani,” tegasnya. 
 
Haedar juga menyinggung perkembangan orang yang berada kelas menengah keatas itu ingin kembali pada Islam, lalu ada isu tentang hijrah. 
 
“Gerakan hijrah ini harus kita lihat sisi positifnya dimana orang ingin kembali meneguhkan spirit keagaman Islam ditengah perubahan dan kehidupan yang mungkin mengalami begitu goncangan pada masyarakat menengah keatas dan disitulah agama menjadi kanopisuci untuk menjadi peneduh spiritual, moral, dan tindakan," ujar Haedar.
 
Haedar mengatakan tugas dakwah bagi kader Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah adalah memahamkan Islam apa yang ada dipandangan Muhammadiyah, itulah pentingnya dakwah Islam berkemajuan. 
 
“Tentu bilhikma, walmauizatul hasana, wajadilhum billati hiya ahsan, tetapi jangan dibalik, yang berlebihan itu ataupun yang belum melaksanakan sepenuhnya itu merupakan sebuah proses dakwah. Ini penting supaya kita tidak salah merespon baik dalam kebijakan public maupun dalam konteks keagamaan kita,” kata Haedar. 
 
Sekarang, lanjut Haedar, saatnya ‘Aisyiyah juga menjadi pelopor dan penggerak dakwah Islam berkemajuan  yang menjelaskan dakwah islam secara mendalam, luas dan substantive secara bayani, burhani dan irfani. 
 
“Saya berharap Pimpinan ‘Aisyiyah diseluruh tanah air dan juga persyarikatan Muhammadiyah di dalam merespon hal-hal yang kontroversial gunakanlah ilmu pengetahuan, gunakanlah pendekatan bilhikmah walmauizah hasanah wajadilhum billati hiya ahasan,” terangnya. (syifa
Shared:
Shared:
1