'Aisyiyah Perlu Mengisi Spirit Keagamaan Agar Tidak Terjadi Bias

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 16 November 2019 14:57 WIB
MUHAMMADIYAH. ID, SLEMAN-  Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan, Muhammadiyah sejak berdirinya telah melahirkan gerakan pembaharuan untuk mengembalikan umat Islam dari kejumudan dan ketertinggalan baik dalam paham agama maupun seluruh aspek kehidupan. 
 
“Di saat Al-Quran hanya dipahami dan dihapal, tetapi Al-Quran tidak memberikan perubahan untuk kemajuan umat, maka Kyai Dahlan dan Nyai Walidah hadir dengan gerakan Islam berkemajuan. Perubahan zaman yang memerlukan pembaharuan maka Muhammadiyah mengembangkan pemahaman Quran dan Sunnah  dengan ijtihad dan akal pikiran yang sesuai dengan jiwa ajaran Islam," tutur Haedar. 
 
Dalam konteks memahami Islam, Haedar menjelaskan Muhammadiyah menggunakan pendekatan bayani, burhani, dan irfani, atau secara teks, ilmu pengetahuan, dan keruhanian atau spiritualitas Islam. Pendekatan tersebut menjadi penting, tandas haedar, terutama ketika kita dihadapkan pada perubahan dalam orientasi keagamaan yang dialami oleh berbagai umat beragama. 
 
Selain itu Haedar juga mengatakan, meningkatnya semangat keberagamaan perlu disambut positif sebagai keinginan untuk meneguhkan spirit keislaman karena perubahan kehidupan yang mengalami goncangan terutama pada kelas menengah ke atas, sehingga agama menjadi kanopi suci sebagai peneguh moral spiritual. Meski demikian, Haedar mengajak ‘Aisyiyah untuk terus memberikan dakwah pencerahan yang mengisi spirit keagamaan agar tidak terjadi bias. 
 
Haedar memberikan contoh perihal semangat untuk hijrah antara lain melalui cara berpakaian. sangking semangatnya, atau kesimpulan dari paham tertentu sehingga mulai marak cara berpakaian dengan menutup muka dan tangan, sedangkan kesimpulan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah muka dan telapak tangan boleh terlihat. 
 
“Tugas kita memahamkan apa yang menjadi pandangan Islam Muhammadiyah, tentu dengan cara yang hikmah dan mauidhoh hasanah," ajak Haedar.
 
Sambil mengutip ayat al-Qur’an tentang berdakwah dengan bijak, pengetahuan yang baik, dan berbantahan dengan cara yang baik. Haedar menjelaskan, bahwa dalam beragama agar jangan berlebihan atau ekstrem dalam beragama. 
 
Haedar sendiri menyayangkan munculnya kekerasan, konflik, dan maraknya kebencian karena orang kehilangan panduan dalam kehidupannya. Menurut Haedar, itu menjadi tugas Muhammadiyah dalam memberikan dakwah yang mencerahkan dan memajukan kehidupan. Ia berharap agar para pimpinan ‘Aisyiyah di seluruh tanah air, dalam merespon hal kontroversial, agar menggunakan pendekatan bayani, burhani, dan irfani serta pendekatan dakwah bil hikmah, mau’idhah hasanah, wa jaadilhum billatii hiya ahsan. 
Shared:
Shared:
1