Membangkitkan Kembali Elan Vital dalam Kehidupan Keluarga

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 10 November 2019 15:45 WIB
MUHAMMADIYAH.ID, PALEMBANG – Din Syamsuddin, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 2005-2015 mengungkapkan bahwa salah satu masalah besar yang dihadapi bangsa Indonesia khususnya umat Islam adalah robohnya pondasi keluarga Indonesia. 
 
Menurut Din, keluarga sebagai lingkaran terkecil di masyarakat tidak berfungsi sebagaimana mestinya, termasuk karena perceraian dan keluarga yang tidak menjadi tempat pendidikan. 
 
“Satu dasawarsa (perceraian) naik 30%. Dari kasus perceraian yang meningkat, sekitar 60% karena gugat cerai oleh istri,”ungkapnya, pada Sesi X Tanwir II NA di Hotel Swarma Dwipa Palembang, Sabtu (9/11). 
 
Din menyampaikan banyak kasus perceraian yang terjadi karena gadget atau handphone. Menurutnya, ini sangat memprihatikan karena terjadi di negara yang mayoritasnya Muslim. Islam membolehkan talak, namun Rasulullah SAW menyatakan hal tersebut merupakan halal yang sangat dibenci oleh Islam. 
 
“Dampak domino akan menghasilkan generasi pengurus yang tidak terdidik. Penelitian kualitas pendidikan Indonesia Indeks kualitas di Indonesia rendah akibat keluarga kurang berfungsi. Oleh karena itu, pilihan tema revitalisasi keluarga sangat penting. Membangkitkan kembali elan vital dalam kehidupan keluarga,” jelas Din. 
 
Din mengimbau kepada para kader NA untuk memasikan gerakan dalam keluarga.
 
“Kembalikan hidup berkeluarga ke dasarnya yang khitohnya. Tidak hanya sebagai fungsi reproduksi juga ada fungsi edukasi untuk saling mendidik antara suami dan istri.  Dua orang datang dengan latar belakang yang berbeda maka tasaul yang lebih memberikan yang kurang dan sebaliknya. Fungsi persenyawaan dan edukasi terhadap diri sendiri. Sebelum menjadi pendidik hendaklah terjadi dulu proses pendidikan antara bapak dan ibu. Tasaul adalah cintai pasangan dengan seutuhnya, baik kekurangan dan kelebihan,” jelasnya. 
 
Nasyiatul Aisiyah, lanjut Din, perlu mempelopori tegaknya kehidupan keluarga, terutama keluarga muda. 
 
"Bisa tidak NA menumbuhkan kembali robohnya keluarga tersebut, kalau bisa dilakukan luar biasa sekali. Perlu dipikirkan gerakannya untuk merevitalisasi robohnya keluarga," terang Din. 
 
Din menjelaskan bahwa gerakan revitalisasi keluarga dapat dimulai dengan mengidentifikasi keluarga. 
 
“Kasus KDRT meningkat, gugat cera istri meningkat, kasus seksual abuse meningkat, menandakan rusak bangsa ini,” paparnya. 
 
Maka, menurutnya, NA harus mampu menyusun konsep revitalisasi keluarga. 
 
“Anggota dan kader NA harus menjadi teladan dalam revitalisasi keluarga. Teladan yang baik kehidupan keluarga dipertahankan, fungsi edukasi juga berjalan. Bisa dibicarakan secara internal, untuk mewujudkan keluarga tangguh,” tutup Din. (Syifa)
Shared:
Shared:
1