Abu Dardiri, Dermawan Amal dan Gagasan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 28 Oktober 2019 11:05 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — Tidak perlu merasa paling berjasa, biarkan sejarah yang menjelaskannya. Ia adalah KH Abu Dardiri, Ketua Muhammadiyah Cabang Purbalingga dan Konsul Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mulai dari tahun 1930 sampai 1963. Beliau juga merupakan pengusul berdirinya Kementrian Agama.

KH Abu Dardiri lahir pada 24 Agustus 1895 di Gombong, Kebumen dan wafat di usia 72 tahun bertepatan dengan 1 Agustus1967 di Purwokerto.

Dalam catatan Riwayat Hidup (Ri Dup) KH. A Dardari yang ditulis oleh Yunus Anis, Abu Dardiri dikenal sebagai sosok ulama yang gigih bergiat dalam dunia usaha. Menjadi tokoh yang bisa dikatakan berada secara ekonomi, tidak membuat Abu Dardiri lupa daratan. Abu Dardiri tetap berbuat dan membantu kepentingan umat banyak, seperti menyumbang dalam bentuk amal usaha dan sumbang-saran gagasan kenegaraan.

Diceritakan, sebelum menjadi tokoh atau pedagang sukses, Abu Dardiri merupakan sosok yang biasa saja. Bahkan pada tahun 1920, pasca diberhentikan dari Pabrik Gula tempatnya bekerja, Abu Dardiri dan keluarganya mengalami hari-hari yang sangat sulit. Bahkan istirnya sampai tidak bisa menanak nasi karena memang tidak ada tersisa beras untuk mereka olah, karena sang suami tidak berpenghasilan sama sekali.

Kerasnya persoalan hidup yang dialami, membuat Abu Dardiri semakin teguh dan tekun ber-taqrub dengan Allah SWT. Selama 40 hari, Abu Dardiri dan istirnya menjalankan shalat Hajat tanpa putus, sebagai wasilah dan mengadukan persolan hidupnya kepada Allah SWT. Namun, sebelum dikabulkan segala permintaannya, sang istri terserang penyakit dan mengharuskan untuk diantar pulang ke Gombong.

Demi mengantarkan istrinya yang sakit tersebut, Abu Dardiri sampai menjual Jas nya yang hasil dari penjualan tersebut digunakan sebagai ongkos perjalanan. Memang benar, di setiap kesulitan Allah selalu sediakan kemudahan. Dalam perjalanannya menuju Gombong, beliau bertemu dengan teman lamanya yang menawarkan kerja sebagai karyawan Pabrik Gula di Solo, tawaran tersebut diterimanya.

Selama bekerja sebagai karyawan Pabrik Gula di Solo, semangat wirausaha Abu Dardiri kembali lagi. Selain bekerja di pabrik dia juga berjualan alat ikat tebu, dari keuntungan yang didapatkan, ia gunakan untuk membiayai kesembuhan istri dan sebagian lagi ditabung untuk meraih cita-citanya sebagai muslim, yaitu berangkat haji. Kemudian rencana itu tercapai, dan setelah kembali dari tanah suci dia fokus berdagang dan mulai merambah dan mengembangkan usaha percetakan di Purwokerto.

Abu Dardiri juga berjasa terhadap urusan ke-Agamaan, pada zaman Jepang Ia dipilih menjadi Syumokatyo (Kepala Jawatan Agama) Karesidenan Banyumas. Sebagai kepala Syumokatyo, Abu Dardiri mengusulkan kepada pemerintah Jepang untuk supaya Sekolah Rakyat (SR) diadakan guru dan pelajaran agama. Usul tersebut diterima oleh Pemerintah Jepang, dan akhirnya SR di daerah Banyumas diberi pelajaran agama, kemudian disusul SR di daerah-daerah lain.

Sesudah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Abu Dardiri bergabung dengan Komite Nasional Indonesia (KNI). Sewaktu diadakan sidang KNI seluruh Jawa dengan Pemerintah Pusat di Jakarta pada 24 sampai 28 November 1945. Ketika diminta mengemukakan pendapat, melalui strategi dan pembacaan terhadap situasi yang matang, Ia mengusulkan agar Urusan Agama jangan disatukan dengan kementrian Pengajaran/Pendidikan.

Menurutnya, urusan Agama harus ditangani secara khusus maka dengan demikian dia mengusulkan untuk diadakan/didirikan Kementrian Agama. Setelah melalui proses beberapa bulan, usulan tersebut diterima, dan diumumkan secara resmi oleh Pemerintah Indonesia pada tanggal 3 Januari 1946, serta menunjuk H Muhammad Rasjidi yang juga tokoh Muhammadiyah sebagai Mentri Agama pertama Republik Indonesia.

Sementara untuk sumbangan amalnya terdiri atas, Gedung Balai ‘Aisyiyah Kauman di Purwokerto, Masjid di Desa Jompo (Sokaraja-Purbalingga), Mushola di Gombong, Asrama Pesantren Pondok Modern Purwokerto, dua Masjid di Gomong, Balai ‘Aisyiyah di Purwokerto, tanah untuk ‘Aisyiyah Gomobong, Masjid desa Buayan Kuwarasan, Madrasah Tanjungsari, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Shared:
Shared:
1