Mengokohkan Peran Tabligh Aisyiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 19 Oktober 2019 15:27 WIB
MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA -- Pimpinan dan anggota 'Aisyiyah selalu memiliki fungsi untuk bertabligh. Sebagai contohnya, anggota dan Pimpinan 'Aisyiyah diminta mengisi pengajian dari tingkat ranting sampai pusat.
 
Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum PP 'Asisyiyah Siti Noordjannah Djohantini dalam kegiatan Konsolidasi Nasional Majelis Tabligh PP 'Aisyiyah bertempat di Aula Kantor PP 'Aisyiyah, Jum'at (18/10).
 
Noordjannah mengatakan, kegiatan ‘Aisyiyah akan lebih terekspose dan sebagai media tabligh juga ke banyak orang.
 
“Orang akan melihat jika medsos itu digunakan untuk kepentingan syiar-syiar kita,” kata Noordjannah. 
 
Menurut Noordjannah, jangan sampai medsos justru dipakai untuk menshare berita atau materi ustad atau mubalihot  yang tidak sesuai dengan pandangan Persyarikatan.
 
Noordjannah juga menyampaikan bahwa ‘Aisyiyah dan para perempuan Muhammadiyah ini bergerak tanpa lelah. 
 
Kiai Dahlan, lanjut Noordjannah, dapat berpikir melampaui zamannya untuk menjadikan gerakan Islam ini, pertama meyakini bahwa perempuan harus dilibatkan. 
 
Kembali menyinggung sejarah, Noordjannah menceritakan majalah Suara 'Aisyiyah di zaman awal. Bahwa tokoh-tokoh wanita didikan Kiai Dahlan itu bacaannya sudah buku-buku internasional. 
 
Bahkan, juga turut serta Kongres Perempuan pertama tahun 1928 yang kemudian jadi Kowani. 
 
Dua tokoh ‘Aisyiyah sudah bicara di tahun itu, membicarakan perempuan di forum nasional. Pernahkah, yang seperti ini menjadi pembahasan di majelis tabligh? Dua tokoh tersebut ialah Ibu Hayyinah dan Ibu Munziyyah.
 
Kedepannya, Para Mubalighot ‘Aisyiyah harus memahami peran dan fungsi majelis tabligh, serta mengokohkan akidah dan ibadah dan muammalah sembari juga memahami sejarah Persyarikatan. Dasar Islam yang dipahami sesuai Islam yang berkemajuan.
 
“Demi menyatakan Islam yang rahmatan lil alamin ini harus disokong bersama-sama dengan kajian para mubalighot ‘Aisyiyah,” tegas Noordjannah.
 
Dalam kesempatan itu Noordjannah menyinggung tentang kekurangan mubalighot yang dialami ‘Aisyiyah. 
 
Maka, menurutnya ini adalah tugas bersama untuk mengokohkan kembali majelis Tabligh dan mencari metode dakwah yang pas untuk menjadi rujukan masyarakat.
 
“Majelis tabligh peran utamanya menjaga bagaimana akidah, ibadah. Harus menjadi rujukan masyarakat. Seperti merawat jenazah, dll. Bagaimana mendampingi kelompok manusia tertentu yang haus rasa spiritualitasnya. Pertemuan ini menjadi relfeksi bagi kita bersama,” ungkapnya.
 
Noordjannah juga mengimbau para mubalighot Majelis Tabligh untuk senantiasa menggunakan keputusan Tarjih Muhammadiyah sebagai acuan pandangan dan pembahasan.
 
“Dakwah era digital ini mohon betul kita ini bisa memfilter hal-hal yang terkomunikasi mengenai berbagai pandangan akidah dan ibadah yang tidak sesuai dan kemudian kita counter narasi yang sesuai. Ibu-ibu tidak akan keliru kalau pandangannya yang digunakan keputusan tarjih. Maka hal yang tidak bisa dihindari majelis tabligh harus mengkaji keputusan-keputusan tarjih,” pungkasnya. (Syifa)
Shared:
Shared:
1