PTMA Dituntut Hasilkan Lulusan yang Unggul dalam Moral dan Spiritual

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 19 Oktober 2019 08:04 WIB
MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA—Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah selenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Akademik dan Al Islam Kemuhammadiyahan (AIK) bagi Pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah  (PTMA) tahun 2019 pada Jumat (18/10) di Hotel Grand Inna.
 
Lincolin Arsyad, Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah dalam sambutannya menjelaskan, tantangan yang akan dihadapi oleh PTMA kedepan salah satunya masih terkait dengan persoalan cepatnya perubahan regulasi akreditasi yang ditetapkan oleh Pemerintah. Sehingga, tugas perbaikan akreditasi bukan hanya diusahakan oleh satu bagian atau bidang di kampus saja.
 
“Masalah yang dihadapi adalah persoalan akreditasi dan pembentukan Program Studi (Prodi) baru Perguruan Tinggi. Terlebih yang PTMA yang baru-baru. Maka akreditasi bukan hanya tanggung jawab pihak ini atau itu, melainkan tanggung jawab bersama. Termasuk pimpinan tertinggi Universitas," tutur Lin.
 
Menyoroti PTMA yang berusia belia ini, Lincolin menganjurkan untuk segera melakukan rebranding. Menurutnya, kesempatan menjadi universitas tidak boleh disia-siakan, meskipun baru tapi tidak boleh berkecil hati dan berkecil peran. Sehingga diperlukan usaha yang lebih keras untuk mengejar ketertinggalan dengan universitas yang terlebih dahulu ada.
 
“Karena diakui atau tidak, kita adalah penyedia jasa. Tentu yang dilihat adalah keunggulan, kekhasan yang dimiliki dan lain-lain. Maka hal ini harus dipertajam betul," katanya. 
 
Meski mengejar tingkatan pada sektor akademik penting, tapi yang tidak kalah penting dan harus disadari adalah penyelenggaraan PTMA merupakan wadah kaderisasi atau pengakderan. Muhammadiyah sebagai ‘induk besar’ yang menaungi sekian ratus perguruan tingginya, yang diinginkan bukan hanya mencetak generasi yang unggul secara intelektual semata, namun juga unggul dalam moral dan spiritual.
 
Sadar akan hal itu, ciri yang melekat pada civitas akademika di seluruh PTMA adalah generasi yang melek dan cakap intelektualitasnya, serta jernih dan terang akhlak moral-spiritualnya. Maka disini pentinganya keberadaan Al Islam dan KeMuhammadiyahan (AIK) dalam memainkan peran, yaitu menyuburkan dan membangun karakter berkemjuan ‘ala’ Muhammadiyah.
 
Kaderisasi yang diusahakan oleh perguruan tinggi bisa menjadi maksimal apabila pihak pimpinan kampus dengan serius menggarapnya. Kampus-kampus yang memiliki asrama mahasiswa bisa dijadikan tempat inkubasi kader yang disokong segala halnya oleh pimpinan kampus. Sehingga, sekurangnya dua aspek, intelektualitas dan religiustitas kader bisa ter-cover oleh PTMA.
 
“Asrama yang dimiliki oleh PTMA harus digunakan sebagai tempat penyemaian pemahaman AIK. Sehingga fungsi kampus juga sebagai wadah pengkaderan,"  pungkas Lincolin.
 
Acara yang mengambil tema “Peningkatan Mutu dan Inovasi PTMA di Era Revolusi Industri 4.0” ini rencananya diselenggarakan selama tiga hari, mulai 18-20 Oktober 2019. Diikuti Rektor/Direktur/Ketua PTMA se-Indonesia beserta wakilnya, Majelis Dikti PP ‘Aisyiyah, Pimpinan PTA. (a'n
Shared:
Shared:
1