Pak AR, Dari Sajadah Sampai Umat Sejahtera

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 17 Oktober 2019 14:00 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA— Abdul Razak Fachruddin (Pak AR), Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang tidak dipungkiri lagi kesederhanan dan sifat warak nya, telah banyak memberikan pengajaran kepada Muhammadiyah yang bisa diresapi oleh kader mudanya, dan pesan-pesan Pak Ar jika digalih makna tersuratnya masih relevan dengan masa sekarang.

Dalam buku yang diterbitkan oleh PP Muhammadiyah tahun 1968, Pak ARmenulis tentang Pedoman Tikar Sembahyang (sajadah). Seperti yang lain, apa yang disampaikan oleh Pak ARselalu terkait dengan hal-hal yang dekat dengan umat, persoalan keseharian yang biasa dianggap remeh/receh. Termasuk dalam catatannya kali ini.

Catatan ini Pak AR menyinggung perihal kebanggaan seorang muslim masa itu, yang ketika datang sholat ke Masjid dengan memakai sajadah yang mewah, berwarna mencolok dan terbuat dari babut atau beludru yang lembut. Lebih merasa bangga lagi apabila sajadah yang dipakai merupakan hasil pembelian langsung dari Mekkah atau Madinah.

“Sampai-sampai di Indonesia, demi untuk menjalani kegemaran kaum muslimien jang demikian itu, ada perusahaan tenun dalam negeri jang sengadja mengeluarkan tikar sholat atau sadjadah itu jang djuga bergambar-gambar semajam itu. Malah ada pula jang digambar dengan simbul organisasi jang dimasukinja,” tulis Pak Ar.

Jika diamati lebih serius, fenomen ini juga terjadi sekarang ini. Selain satire terkait warna dan gambar yang mencolok bisa mengganggu konsentrasi dalam sholat. Pesan lain juga terkait dengan melimpahnya jumlah umat Islam saat ini yang memiliki semangat untuk kembali ber-Islam secara kaffah. Semangat tersebut menjadikan mereka sebagai bidikan empuk para pemiliki modal yang dengan kamuflatif mengeksploitasinya. Fashion yang mereka produksi dan memilih berlabel Islami, laris di pasar umat Islam.

Disebabkan karena butuh pengekspresian, semangat kelompok yang ingin ber-Islam secara kaffah ini kemudian membutuhkan simbol-simbol tertentu sebagai identitas ke-kaffah-annya. Namun, nahasnya mereka malah menjadi ‘bulan-bulanan’ para pemilik modal. Produksi besar-besaran dilakukan dan menjejali ruang sadar mereka melalui iklan-iklan di media sosial yang ada digengamannya.

“Apa pula kalau dilihat bahwa permadani-permadani sadjadah jang bergambar Mesjid Makkah, Madinah dan sebagainja itu walaupun dijualnya di Makkah, di Djeddah, di Madinah pada umumnja adalah buatan dari Itali, dari Belgia dan lain-lainnja,” lanjut Pak Ar.

Selain pesan tersurat tentang perilaku konsumtif yang dialami oleh umat Islam, secara tidak langsung Pak Ar juga mengajak kepada umat Islam untuk lebih mandiri secara ekonomi, artinya bukan lagi menjadi konsumen tetapi posisinya harus berubah menjadi produsen.

Melalui sindiran seperti ini, Pak Ar ingin mengajak umat Islam menjadi umat yang sejahtera. Sehingga cita-cita ingin menjadi “baldatun toyyibatun wa rabbun ghofur” bukan lagi pemanis bibir semata. (a'n)

Shared:
Shared:
1