Muhammadiyah Bekerja dalam Senyap

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 05 Oktober 2019 10:49 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, JAKARTA – Membuka Pengajian Bulanan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Budi Setiawan berpesan agar warga Muhammadiyah terus menggelorakan semangat Al-Ma’un.

“Al-Quran itu sudah 14 abad, tapi baru seabad lampau surat Al-Ma’un menggerakkan kemanusiaan. Kata miskin dan yatim sering kita dengar. Kyai Dahlan menyatakan orang yang menelantarkannya berarti mendustai agama. Hapal surat saja belum cukup, sehingga Kyai Dahlan mendorong muridnya untuk mengamalkannya. Gelandangan dikumpulkan diajak ke masjid bukan untuk salat, tapi untuk mandi dan diajak makan,” urai Budi, Jumat (4/10).

“Ini yang sangat penting bagi kita, apakah yang sudah dilakukan Kyai Dahlan itu perlu kita dorong lebih jauh lagi. Penting semangat ini kita lembagakan untuk memajukan masyarakat, saya kira ini tugas Muhammadiyah sekarang di tengah kapitalisme,” imbuh Budi.

Bertempat di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta, Pengajian Bulanan kali ini mengambil tema “Membangun Persatuan dan Memajukan Bangsa Melalui Pelayanan Sosial-Kemanusiaan” dengan narasumber para pekerja sosial seperti dr. Amalia Usmaianti yang telah dua tahun berkiprah di pedalaman Papua,  tokoh pembangunan desa Trisno dan Sekretaris Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah Bachtiar Dwi Kurniawan.

“Teologi Al-Ma’un Muhammadiyah adalah bukti integralisme gerakan praksis kemanusiaan. Gerakan rahmatan lil-‘alamin. Di lapangan kami tidak menggunakan bendera lebih dahulu karena kami mengutamakan kemanusiaan. Dengan sendirinya mereka akan menjadi Muhammadiyah. Yang penting mereka simpatik, minimal tidak memusuhi kami,” ujar Bachtiar menceritakan kisah gerakan kemanusiaan Muhammadiyah di berbagai pelosok terpencil Indonesia.

Atas ketulusan Muhammadiyah dalam pengamalan gerakan kemanusiaan Al-Ma’un tanpa memandang suku dan agama, Bachtiar, Amalia, hingga Trisno menyampaikan banyak kesan dari masyarakat setempat terhadap Muhammadiyah.

“Ada warga non-muslim menghibahkan 7 hektar tanah untuk Muhammadiyah. Ada penduduk non-muslim yang ingin membangunkan masjid bagi Muhammadiyah tapi ditolak oleh Pak Haedar karena takut dianggap Muhammadiyah punya misi Islamisasi. Muhammadiyah bekerja dengan senyap, tidak dengan kata-kata tapi dengan kerja nyata,” imbuh Bachtiar. (afandi)

Shared:
Shared:
1