Kader Muhammadiyah Harus Kreatif dan Ora Mutungan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 02 Oktober 2019 21:01 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA --  Menjadi kader Muhammadiyah harus memiliki atau bersifat Islami, disiplin waktu ora molar-molor (tepat waktu), semangat gigih tur ora wegahan (tidak muda putus asa), ora mutungan (ngambek), dan akalnya harus kreatif.

Sifat kader Muhammadiyah tersebut disinggung oleh Abdul Razak Fachrudin (Pak AR), ketika memberikan materi di Pengajian Ramadhan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah tahun 1409 H/1989 M di Yogyakarta.

Meskipun sebagai sindirian, namun peserta yang hadir tetap bisa menerima dengan ikhlas dan gembira, bahkan ada yang tertawa terpingkal. Karena gaya penyampaian yang dipakai Pak AR memang dengan cara yang jenaka. Ungkapan Pak AR tersebut seperti menyentil kader Muhammadiyah yang terkadang masih belum bisa dewasa dalam berorganisasi.

Pak AR waktu itu ditunjuk sebagai pemateri untuk menyampaikan topik tentang “Muhammadiyah Sebagai Gerakan Amal dan Pemikiran Islam.” Padahal materi yang dipaparkannya termasuk materi yang berbobot. Namun ditangan Pak AR hal-hal yang dianggap berat oleh kebanyakan orang menjadi ringan.

Dengan caranya, Pak AR juga menyoroti hal-hal yang dianggap orang lain sebagai suatu yang ‘remeh’ atau dalam bahasa sekarang receh. Misalnya, Pak AR menanyakan terkait atribut yang dipakai wisudawan dan wisudawati Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) ketika prosesi wisuda.

“Apakah harus pakai toga, dan memindah kucir? Apakah kalau tidak memakai toga dan memindah kucir lalu kesarjanaannya kurang bermutu? Apakah memakai toga dan memindah kucir dapat mempengaruhi bobot keilmuan seorang sarjana?.”Seloroh Pak AR yang diikuti riuh tawa peserta pengajian.

Titik poin dari alur logika Pak AR ada dipertanyaan terakhirnya yang membuat atau mungkin bahkan menuntut peserta pengajian berfikir keras dan mendalam. Bukan persoalan toga dan memindah kucir yang menjadi tujuan pembahasannya, melainkan pada sifat kritis dan kreatif pada kader Muhammadiyah.

“Apakah kita tidak dapat menciptakan model atau cara lain yang berciri Islam?,” pungkas Pak AR.

Pesan yang disampaikan oleh Pak AR memang terkesan hanya recehan, tapi jika direnungkan lebih dalam merupakan pesan tersirat bagi kader Muhammadiyah untuk memiliki sifat dan karakter kritis dan kreatif. Pesan tersebut juga masih tetap relevan jika diterapkan pada masa sekarang. (a’n)

Shared:
Shared:
1