Iman Harus “Berbuah Manis”

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 01 Oktober 2019 14:32 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — Dari pada mencurigai keimanan saudara muslim lain, lebih baik mencurigai keimanan diri masing-masing yang mudah goyah dan kendur ketika mendapat ujian dan cobaan yang Allah berikan.

Seperti yang disebutkan dalam Surat al Ankabut ayat 2, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi ?.

KH Ahmad Badawi, dalam Ringkasan kitab yang ditulisnya, Sju’abul Iman (Beberapa Cabang Iman) menjelaskan, iman tidak bisa hanya diwujudkan dalam ucapan, tapi juga hati dan tindakan. Ia menganalogikan iman seperti pohon,

“Adapun jang harus kita imankan, serupa benar dengan sebatang pohon jang tegak berdiri, ada dasar ada akarnja, ada pokok ada dahannja, ada tjabang ada rantingnja, daun-daun dan bunga-bunga serta buahnja jang amat lezat sangat nikmat rasanja, bila dimakan orang siapa sadja.”

Dalam cabang iman ke 11 dan 12, Ahmad Badawi menerangkan, sebagai seorang mukmin tidak boleh membanggakan diri (sombong), bahwa sudah berikrar dengan dua kalimat syahadat dan menjadi golongan Islam. Melainkan harus terus merasa Khauf (khawatir) dan Roja’ (berharap belas kasih kepada Allah) tentang kebenaran sikap keimanannya.

Sebagai mukmin yang baik adalah mukmin yang selalu merasa bahwa dirinya masih merasa belum baik. Serta selalu mempertanyakan, “apakah sudah termasuk dan menjadi orang mukmin yang sejati ?”. Maka, jika berkeinginan menjadi mukmin yang baik haruslah sering-sering bercermin kepada keteragan yang terdapat dalam Al Qur’an dan Hadits yang menerangkan sifat-sifat orang Islam.

Namun juga sebagai mukmin tidak boleh putus harapan dari kemurahan Allah, sebab merasa banyak dosa atau merasa belum termasuk golongan Islam. Akan tetapi sebagai mukmin juga harus memiliki keyakinan bahwa Allah tidak pernah putus kasih-Nya dan kemurahan-Nya, atau dalam bahasa agama biasa disebut sebagai sikap Roja’

Sehingga sikap keimanan tersebut bisa diwujudkan dalam bentuk-bentuk keteladanan profetik, keimanan bukan malah mewujud dalam bentuk ‘keras’ dan mudah menghakimi pihak selain dari diri atau kelompoknya sebagai pihak yang pasti salah. Jika iman diserupakan dengan pohon yang menghasilkan buah manis dan segar kepada manusia, maka iman harusnya juga berdampak sama. Yaitu, iman yang memberikan dan mampu memaniskan hidup dan relasi kemanusiaan semesta. (a’n)

Shared:
Shared:
1