Pentingnya Kader Mengenal Sejarah Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 24 September 2019 12:41 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — Tidak mau muridnya hanya menerima teori pelajaran keMuhammadiyahan di kelas, guru Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 1&4 Banjarnegara boyong siswanya untuk lakukan kunjungan dan belajar mata pelajaran keMuhammadiyahan melalui visual di Yogyakarta pada Selasa (24/9).

Sebagai alternatif metode pendidikan, kunjungan lapangan yang dilakukan oleh siswa dan siswi SD Muhammadiyah 1&4 Banjarnegara kuatkan pemahaman keMuhammadiyah, serta sebagai sarana mencetak kader Muhammadiyah yang paham betul tentang Muhammadiyah.

“Setelah kita berlelah-lelah dengan teori di kelas, kita ajak anak-anak untuk berkunjung ke Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang pertama. Di sini di Gedoeng Moehammadijah, di Yagyakarta. Kami berharap setelah ini siswa lebih paham dan kelak akan menjadi kader Muhammadiyah yang tahu persis jati diri mereka, yaitu Muhammadiyah,” ucap Sutarno, Perwakilan Bidang Kesiswaan SD Muhammadiyah 1&4 Banjarnegara.

Dikonsep bukan hanya kunjungan biasa, siswa dan siswi diberikan tugas untuk merekam baik itu dalam bentuk tulisan atau catatan, gambar dan juga lisan. Kemudian nanti setelah kunjungan selesai, para siswa diminta untuk membuat laporan dan dipresentasikan.

Kunjungan yang dilakukan meliputi makam KH. Ahmad Dahlan di Karangkajen, Kampung Kauman sebagai tempat cikal bakal berdirinya Muhammadiyah, dan Gedoeng Moehammadiyah. Dalam kunjungan ini, SD Muhammadiyah 1&4 Banjarnegara diikuti sebanyak 108 siswa kelas 5 dan 10 pendamping dari guru kelas dan guru mata pelajaran.

Menyambut kedatangan siswa dan guru, Ananto Isworo, Ketua Kepala Bagian Rumah Tangga Gedung Muhammadiyah mengajak untuk pentingnya belajar sejarah. Karena jika dibiarkan tidak mengenal sejarahnya, generasi penerus akan mudah dilemahkan.

Dalam pemaparannya, pria yang karib disapa Mas An ini mengenalkan siswa dengan para pendahulunya di Muhammadiyah yang telah banyak berjuang untuk bangsa lebih lama sebelum adanya negara. Hal ini perlu disampaikan, sebagai cara merawat jati diri Muhammadiyah di generasi-generasi atau kader mudanya.

“Pengenalan sejarah Muhammadiyah kepada kader-kader kecilnya perlu dilakukan untuk merawat dan menjaga jati diri mereka, ini juga sebagai investasi di masa depan,” pungkas An. (a’an)

Shared:
Shared:
1