Hadiri Forum Internasional di Madrid, Haedar Sampaikan Pentingnya Aktualisasi Nilai Moral

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 18 September 2019 00:06 WIB
MUHAMMADIYAH. ID, MADRID- Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir hadiri dan menyampaikan speech dalam International Meeting "Peace With No Borders: Religions and Cultures in Dialogue"  yang diselenggarakan Community of Sant'Egidio di Madrid pada tanggal 15 hingga 16 September 2019.
 
Di forum yang secara khusus mengangkat topik "No One Should Ever Be Excluded" terdapat beberapa pembicara, diantaranya Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, Simonetta Agnelo Hornby Writer, Italy, Grégoire Ahongbonon Writer, Founder of the Association "Saint Camille de Lellis", Benin Eugenio Bernardini, Former Moderator of the Waldensian Table, Italy, Colette Guiebre, BRAVO Program Coordinator, Community of Sant'Egidio, Burkina Faso Johnnie Moore, U.S. Comissioner on International Religious Freedom, USA, dan Daniel Sperber Rabbi, "Bar Ilan" University, Israel.
 
Haedar dalam paparannya menyampaikan bahwa dalam deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Hak Asasi Manusia antara lain disebutkan bahwa setiap manusia “Terlahir bebas dan mendapat perlakuan sama. Kita semua dilahirkan bebas. Kita semua memiliki pemikiran dan gagasan kita sendiri. Kita semua harus diperlakukan dengan cara yang sama.”. Setiap manusia juga memiliki “Hak tanpa ada diskriminasi”, bahwa “Setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan tanpa pembedaan apa pun, seperti ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, opini politik atau lainnya, asal kebangsaan atau sosial, properti, kelahiran, atau status lainnya.”
 
Manusia di manapun harus dijamin tentang “Hak untuk Hidup”, bahwa Kita semua memiliki hak untuk hidup, dan hidup dalam kebebasan dan keamanan”. Dijamin pula  “Hak tanpa perbudakan”, bahwa  “Tidak ada yang akan ditahan dalam perbudakan atau praktik perbudakan; perbudakan dan perdagangan budak dilarang dalam segala bentuk."Jaminan hak asasi juga berlaku untuk “Bebas dari penyiksaan dan perlakuan yang merendahkan.”, bahwa “Tidak seorang pun akan mengalami penyiksaan atau perlakuan atau hukuman yang kejam, tidak manusiawi atau merendahkan martabat.”
 
"Dengan prinsip hak manusia universal yang diakui PBB tersebut maka menjadi komitmen semua orang, golongan, bangsa, dan negara di manapun agar setiap manusia harus diperlakukan sama tanpa diskriminasi dan tanpa perlakuan buruk oleh siapapun dan atasnama apapun di muka bumi ini," jelas Haedar pada Selasa (17/9).
 
Sementara dalam komitmen beragama, Haedar menyebutkan bahwa agama secara universal sangat penting dan fundamental dalam kehidupan umat manusia. Agama memiliki nilai sangat penting di tengah kehidupan yang profan (duniawi), yakni  "kesatuan sistem keyakinan dan praktek-praktek yang berhubungan dengan suatu yang sakral, di mana semua orang tunduk kepadanya atau sebagai tempat masyarakat memberikan kesetiannya” (Durkheim, 1920). 
 
Haedar juga menegaskan, bahwa dalam masyarakat modern yang sekuler sekalipun agama tetap relevan dan penting dalam kehidupan umat manusia, meskipun ekspresi dan aktualisasinya tidak bersifat langsung dan dalam kehidupan bernegara terjadi pemisahan antara domain publik dan agama (Wilson, 1966).
 
"Tantangan utamanya ialah bagaimana umat beragama pada setiap agama mewujudkan nilai-nilai luhur keagamaan yang sakral itu untuk membangun tata kehidupan yang adil, damai, baik, dan serba utama yang menjadikan umat manusia hidup selamat dan bahagia secara bersama-sama," tegas Haedar. 
 
Sementara, dalam kenyataan masih terjadi atasnama agama terjadi konflik, kekerasan,  dan diksiminasi sosial sehingga kehidupan dalam masyarakat mengalami disintegrasi. Dalam kehidupan masyarakat dunia di tingkat global dan domestik saat ini secara umum juga masih dijumpai adanya rasisme, perlakuan buruk terhadap minoritas, bias gender terhadap perempuan, perdagangan manusia, kekerasan terhadap mereka yang lemah, terorisme dalam berbagai jenis,  segala bentuk diskrimnasi, serta beragam tindakan yang merugikan kehidupan manusia dan merusak lingkungan. 
 
 
"Umat beragama dituntut komitmen moralmya dalam menghadapi dan memberi solusi terhadap masalah-masalah kemanusiaan tersebut untuk membuktikan ba