Tiga Pesan Haedar Nashir Bagi Civitas Akademika UMPO

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 08 September 2019 11:24 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, PONOROGO - Muhammadiyah selalu terpanggil untuk berbuat, dan bergerak melahirkan gerakan Islam yang membawa kemajuan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta.

Sejak kelahirannya yang dipelopori oleh KH Dahlan, Muhammadiyah terus bergerak berbuat untuk memajukan umat dan bangsa. Yang dimulai sejak meluruskan arah kiblat, merintis pendidikan Islam modern, mengerakkan rumah sakit, panti asuhan, poliklinik, yang berdasar pada prinsip Al Maun.

“Dari apa yang dilakukan KH Dahlan itu sesungguhnya, Kiyai dan generasi awal ingin memperbaharui kondisi umat Islam dan bangsa Indonesia dari ketertinggalan, keterbelakangan dan keterjagaan untuk menjadi bangsa merdeka dan dalam kemerdekaan itu kita menjadi bangsa yang berkemajuan,” jelas Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir ketika menyampaikan amanat dalam peresmian Expotorium Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO) pada Sabtu (7/9).

Menurut Haedar apa yang dilakukan Muhammadiyah sejak dahulu hingga sekarang tidak cukup dengan teori, tidak cukup dengan retorika, dan tidak cukup dari satu mimbar satu ke mimbar lain. Tetapi dengan harokatul amal, yakni gerakan amaliyah yang nyata dan membawa perubahan.

Haedar menegaskan, dalam pernyataan Pimpinan Pusat Muhammadiyah abad ke dua, dinyatakan bahwa satu diantara ciri dari pandangan keagamaan Muhammadiyah yang berkemajuan adalah mengubah strategi gerakan dari al jihad lil muaqodoh, dari perjuangan yang serba konfrontasi terhadap keadaan menjadi al jihad lil muwajahah, yakni gerakan dan strategi untuk menghadirkan alternatif yang terbaik.

Dalam kesempatan itu Haedar menyampaikan tiga pesan kepada civitas akademika UMPO, pertama, untuk memperdalam paham pemikiran, dan perspektif keislaman Muhammadiyah, sebagaimana menjadi manhaj tarjih.

“Kita sangat lama menjadi sosok yang memahami tarjih, juga dibanyak wilayah. Maka jadikan alam pikiran Muhammadiyah dalam hal keislaman itu menjdi cara beragama kita, kita belajar bagaimana memahami Islam secara bayani, burhani, dan irfani,” jelas Haedar.

Kedua, pahami prinsip-prinsip ideologi Muhammadiyah, bukan hanya untuk menjadi pagar dalam berumah Muhammadiyah.

“Rumah Muhammadiyah tidak boleh setiap orang masuk biarpun kita punya prinsip keterbukaan, mungkin orangnya tidak masuk ke rumah Muhammadiyah, tetapi alam pikirannya yang masuk, baik yang ke kanan maupun yg ke kirian,” terang Haedar.

Ketiga, dalam kehidupan kebangsaan dan kemasyarakatan gunakanlah kepribadian dan khittah Muhammadiyah. Haedar mengungkapkan bahwa di Ponorgo inilah lahir khittah Muhammadiyah.

“Khittah Ponorogo itu memposisikan Muhammadiyah sebagai ormas dakwah, bukan organisasi politik, dan tidak berperilaku seperti organisasi politik. Ponorogo punya peran sejarah dan tentu saja harus tetap menjadi pengawal Muhammadiyah,” jelas Haedar.

Terakhir, kita harus memilih untuk  melalui jalan yang terbaik untuk umat dan bangsa. Muhammadiyah membangun amal usaha, baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial dengan tujuan sebagai rahmatan lil alamin. Dan dalam konteks Indonesia, Muhammadiyah ingin negeri ini menjadi darul ahdi wa syahadah.

“Tidak cukup bilang NKRI harga mati, tetapi persoalan kita biarkan. Apalagi kita bilang NKRI harga mati, tapi tidak peduli terhadap kanan dan kiri, meneriakkan NKRI harga mati, ada masalah sedikit saling marah. Nah, Muhammadiyah harus menjadi kekuatan moderat dan pencerah yang nyata, konkrit dan bisa jadi uswah khasanah,” pungkas Haedar.

Shared:
Shared:
1