Menyatukan Kalender Hijriyah adalah Menyatukan Umat

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 07 September 2019 05:39 WIB
MUHAMMADIYAH.ID, JAKARTA – Membuka Pengajian Bulanan Pimpinan Pusat Muhammadiyah bertemakan “Kalender Islam Global dan Pencerahan Peradaban”, Jumat (6/9) Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dadang Kahmad menyayangkan umat Islam yang masih tidak memiliki Kalender Hijriyah Global meskipun peradaban Islam telah berlalu 1500 tahun.
 
“Aneh umat yang besar ini tidak punya satu kalender yang dipakai seluruh umatnya padahal Cina, Buddha, Jawa dan elemen lain saja punya kesepakatan satu kalender perhitungannya masing-masing,” sesal Dadang.
 
Muhammadiyah menurut Dadang sejak Muktamar ke-47 di Makassar tahun 2015 telah memberikan perhatian terhadap pentingnya unifikasi ataupun penyatuan kalender Islam secara global, sebab selama ini kalender Islam yang digunakan masih bersifat zonal, yakni setiap negara memiliki kalender Hijriyah sendiri-sendiri. 
 
Tidak adanya kesepakatan terhadap Kalender Hijriyah Global membuat perbedaan hari-hari keagamaan Islam menjadi berbeda-beda antara satu dengan tempat yang lain. Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Syamsul Anwar menilai konsensus penggunaan Kalender Hijriyah Global amat diperlukan karena sesuai dengan prinsip maqashid syariah, anjuran nash secara implisit dan seruan Islam sebagai umat yang satu.
 
Sementara itu Prof. Tono Saksono Ketua The Islamic Science dan Riset Network menyimpulkan bahwa hambatan terbesar kesadaran umat terhadap Kesatuan Kalender Islam Global justru muncul dari kelompok tradisionalis yang masih kukuh mempertahankan penentuan bulan berdasarkan penglihatan mata telanjang kendati ilmu teknologi dan astrologi sudah berkembang sedemikian pesat.
 
“Kalender Global itu harus lintas kawasan bukan di satu wilayah saja. Ini tidak mustahil. Contohnya bahwa pada hari wukuf di Arafah, di seluruh dunia mengamalkan puasa pada saat yang sama (tanpa melihat hilal). Artinya, metode rukyat itu tidak bisa mengcover seluruh dunia. Sebab rukyat hilal itu bisa terlambat dari satu tempat ke tempat lainnya,” imbuh Syamsul Anwar. 
 
“Kita harus berhati-hati karena yang kita bawa adalah agama. Ciri orang Muhammadiyah adalah mengedepankan ilmu, akhlak dan spiritualitas. Saya kira jika metode penentuan Hijriyah antara menghitung dan melihat disampaikan dengan tiga hal itu pasti juga akan sampai,” pungkas Dadang. (afandi)
Shared:
Shared:
1