Haedar Resmikan Lima Sumur Artesis Pertanian di Sigi

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 01 September 2019 15:10 WIB

PALU, MUHAMMADIYAH.OR.ID -- Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir meresmikan lima sumur artesis pertanian dan menjadi saksi deklarasi Jamaah Tani Muhammadiyah (Jatam)  pertama di luar Pulau Jawa yang diprakarsai Majelis Pembedayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah, di Sigi, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu, (31/8). 

 

Dikatakan Haedar, PP Muhammadiyah menghargai upaya yang dirintis MPM,  yang merambah Sulteng untuk Jatam pertama di luar pulau Jawa. 

 

Selain ada MDMC yang mengurus Di bidang kebencanaan. MPM di beberapa tempat di kawasan 3 T juga telah membuktikan kiprahnya.

 

"Kerjasama MPM dan LAZISMU Merupakan satu rumpun gerakan Al Maun Muhammadiyah", kata Haedar. 

 

MPM telah mengupayakan Peningkatan usaha tani mulai dari produksi dan pasca usaha tani. "Nikmat Allah tidak bisa dihitung. Betapa diberi nikmat Allah SWT sedemikian rupa, alam dan kekayaan yang besar. Indonesia sangat kaya,  bagaimana memanfaatkan anugerah Allah secara berkemajuan," lanjut Haedar.

 

Haedar berharap Jatam Sulteng harus menjadi petani berkemajuan. 

 

Menurut Haedar, Kelemahan Pertanian kita jika sering didiamkan tidak akan mengalami kemajuan. Banyak produk yang bisa diproduksi tetapi masih import. Bangsa penjajah ke Indonesia salah satunya adalah memperebutkan kawasan yang kaya produk pertanian dan perkebunan.  

 

"Di Donggala ini menhadilkan kopra. Petani bukan jamaah yang malas. Kalau Pertanian tidak maju, yang disalahkan petani kita malas. Padahal bukan. Banyak yang menyebutkan penelitian bahwa petani kita gigih dan pekerja keras. Punya sifat komunal, perasaan jiwa bersama. Dan tidak kenal lelah. Kelemahan kita mungkin di sektor teknologi," terang Haedar.

 

Maka Jatam, lanjut dia, Muhammadiyah perlu melakukan inovasi teknologi untuk meningkatkan produk pertanian. Sektor teknologi harus kuat. Di samping SDM juga perlu ditingkatkan. Petani harus punya jiwa mandiri.  Percaya yang dilakukan dan tidak meminta bantuan ke orang lain, tetapi terbuka untuk bekerja sama.

 

Dia menjelaskan watak seorang Petani di antaranya sabar, tekun, tidak kenal lelah, telaten. Mandiri. "Banyak jalan menggerakkan persyarikatan, salah satunya lewat Jatam," imbuhnya.

Shared:
Shared:
1