Haedar Sampaikan Orasi Budaya di Haul Cak Nur ke-14

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 30 Agustus 2019 09:36 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, JAKARTA – Menyampaikan orasi budaya dalam Peringatan Haul Cak Nur Ke-14 yang diadakan oleh Nurcholish Madjid Society (NCMS) di Kridangga Ballroom Century Park Hotel Jakarta, Kamis (29/8) Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan pentingnya setiap tokoh bangsa untuk bersikap terbuka, sedia berdialog, dan terbiasa membaca masalah secara reflektif dan multi-perspektif.

Dari Cak Nur, Haedar menekankan bahwa siapapun bisa mempelajari peneladanan moral beliau sebagai intelektual yang tidak hanya pandai berteori dan beretorika tetapi juga tidak mengesampingkan keluhuran budi dan moralitas.

“Aktualisasi ilmu dalam bentuk etika dan intelektualitas yang tinggi itu kita temukan pada Cak Nur. Ilmu menyinari hati, pikiran, jiwa dan sikap, bukan hanya dimensi kognisi yang memperkaya retorika tapi juga masuk ke relung terdalam, menyinari dan memancarkan sinar pencerahan bagi orang lain. Ini teladan yang perlu kita terapkan pada peran dan tempat masing-masing yang mungkin berbeda. Kita juga perlu belajar tidak mudah menghakimi pemikiran orang lain. Persoalannya, kita jarang berdialog, merasa paling benar pada perspektifnya sendiri, dan tidak belajar satu sama lain. Saya kira untuk konteks yang lebih luas ini juga perlu dalam membaca Indonesia saat ini,” pesan Haedar Nashir.

Menyinggung teladan tidak baik dari para elit politik yang berselisih sampai di luar forum debat, Haedar mengenang perdebatan ketua Muhammadiyah Azhar Bashir dengan Cak Nur yang menurutnya panjang, keras dan keduanya tidak marah.

“Juga antara tokoh-tokoh Masyumi dengan PKI masih bisa bertukar sapa. Itu karakter yang harus menjadi contoh. Apakah itu terjadi pada elit yang karena perbedaan justru kita saling menjauh? Ini memerlukan jiwa besar dan toleransi tinggi. Daya intelektualitas tinggi membuat mereka matang menjadi petinggi bangsa. Saya pikir banyak orang yan akil baligh tapi kematangannya tidak pernah terbentuk. Ilmunya mumpuni tapi tidak mencerahkan. Tidak ulul albab,” keluh Haedar.

Haedar juga menyindir gejala klaim dan slogan ultra-nasionalisme seperti Aku Pancasila dan lainnya yang berhenti hanya di kata-kata dan tidak sampai membuahkan amal nyata untuk bangsa yang luas. Haedar mengulang bahwa dialog dan multi-perspektif diperlukan dalam melihat proses kebangsaan sebagai hal yang dinamis.

Radikalisme terjadi bukan pada ruang beragama, tapi juga pada nasionalisme, sampai Cak Nur membawa kita pada nasionalisme universal. Berarti ada problem tertentu.

“Kemarin, karena sebuah kata terjadi kemarahan masal pada saudara kita di Papua. Soalnya apakah kata itu saja yang memicu, saya kira kita tidak bisa membaca secara nalar positivistik. Bisa jadi ada nalar yang terpendam, dan kita dinina-bobokan dengan memblok rasa sakit itu. Ini semua membutuhkan perenungan yang mendalam, pemahaman yang multiperspektif, sekaligus butuh peta jalan yang konsensus, lepas dari kepentingan,” tutur Haedar.

“Saya yakin dengan kedewasaan, kita akan sampai pada tujuan nasional. Bangsa ini dan bangsa-bangsa yang lain tidak akan berhenti di satu titik dan akan terus berproses dan menjadi, tergantung pada kita. Akan tetapi para pemimpin yang berbudi luhur dan berkreativitas tinggi akan mampu membaca keragaman faktor ini untuk dapat diambil bagi bangsa kita ke depan. Kalau kita sering mengeluh juga tidak akan dewasa, semakin banyak keluar energi negatif. Juga merasa paling benar akan membuat ruang itu sempit,” tutup Haedar. (afandi)

Shared:
Shared:
1