Muhammadiyah Di Hadapan ‘Wajah’ Dunia yang Berbeda

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 29 Agustus 2019 13:58 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL — Banyaknya Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dan model-model metode dakwah yang dimiliki Muhammadiyah saat ini adalah hasil dari cita-cita KH Ahmad Dahlan seabad lalu. Namun setelah seratus tahun usianya, kini dunia yang dihadapi oleh Muhammadiyah sama sekali berbeda. Maka dibutuhkan tata ulang pemahaman terkait ‘Berkemajuan’ yang disampaikan oleh KH Ahmad Dahlan yang mejadi jati diri Muhammadiyah.

Kehidupan Kiai Dahlan adalah bagian dari kelompok priyayi dan pedagang yang hidup di perkotaan dan bergulat dengan masalah-masalah yang ada waktu itu. Maka gagasan yang muncul dari Dahlan adalah jawaban dari kejadian dan lingkungan sosial yang melingkupinya waktu itu.

Ki Herman Sinung Janutama, Budayawan Nasional dan alumni SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta dalam perspektif sejarah dan budaya mengungkapkan, gagasan yang dicitakan oleh KH Ahmad Dahlan seratus tahun lalu dan bertahan sampai serkarang adalah prestasi yang patut dibanggakan. Namun menghadapi tantangan diusianya kedepan, Muhammadiyah perlu melakukan tata ulang pemahaman terhadap dirinya sendiri dihadapan “wajah” dunia yang berbeda saat ini.

“Hari ini kita melihat hasil-hasil yang dicitakannya (Ahmad Dahlan), baik di sisi dakwah dan amal usaha. Hampir seluruhnya adalah representasi dari cita-cita Kiyai Dahlan 100 tahun yang lalu, kita belum bisa lari dari bayang-banyang itu,” ucap Sinung pada Rabu (28/8) malam dalam acara Majelis Reboan yang digelar di Masjid Husnul Khatimah.

Semangat berMuhammadiyah untuk hari ini menurut Sinung adalah menanyakan metropolis yang akan dihadapi di depan. Muhammadiyah sebagai organisasi gerakan perkotaan dan kultural yang waktu itu berhadapan dengan sisi kultur masyarakat abangan, kultur masyarakat ‘gugon tuhon’, atau kebudayaan yang tidak berkemajuan. Maka pada hari ini Muhammadiyah akan berhadapan dengan kebudayaan-kebudayaan yang sifatnya global/mondial, dan kebudayaan yang sifatnya masif.

“Karena kedepan yang dihadapi Muhammadiyah adalah budaya yang sifatnya sudah tidak lagi unik disuatu lokal kedaerahan, melainkan dengan kebudayaan yang sifatnya global,”ungkapnya.

Munculnya kebudayaan-kebudayaan semacam itu adalah sebuah keniscayaan, karena instrumen atau infrastrukturnya telah disiapkan sejak sebelum perang dunia pertama. Yaitu sebuah jaringan cyber space (internet), yang kemudian disusul dengan adanya media sosial. Sehingga dunia menjadi sebuah kampung global yang secara pasti akan mengikis benteng-benteng pertahanan budaya kecil yang unik di suatu lokal tertentu. Karena segala sesuatunya terpresentasikan di media sosial dan akan dikritik secara global.

Maka Muhammadiyah harus mampu memetakan tantangan didepannya. Misalnya tantangan AUM pendidikan, setidaknya percepatan yang terjadi yang diakibatkan adanya kecanggihan teknologi akan mengantikan posisi lembaga pendidikan yang dimiliki Muhammadiyah. Ketika guru berjuang habis-habisan supaya murid paham melalui metode ajar seperti saat ini, tapi di sisi lain kecepatan informasi pengetahuan yang diperoleh dari gadget jauh lebih cepat dan mudah.

“Percepatan atau akselerasi ini yang kita coba fikirkan kedepan, kalau tidak bagaimana nasib ini sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah. Kalau malah tidak bisa merespon dari percepatan atau kecepatan perubahan ini, mungkin besok sudah jarang orang sekolah lagi,” pungkas Sinung. (A'n)

seumber foto; senijogja - wordpress.com

Shared:
Shared:
1