Cerita dari Kokoda Tentang Dakwah Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 26 Agustus 2019 18:49 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL — Kepala Kampung Warmon Kokoda, Sorong, Papua Barat, Ari Samsudin Namugur mengatakan bahwa, hadirnya Muhammadiyah di kampungnya memberikan rasa bahwa mereka diperhatikan, hal itu membuat mereka merasa tidak di anak tirikan.

Dakwah Bil Hal melalui pendekatan partisipatoris yang dilakukan oleh Muhammadiyah di kampungnya sejak 2013, memiliki dampak signifikan. Masyarakat suku Kokoda yang awalnya nomaden (berpidah-pindah) kemudian diberi akses untuk mendirikan kampung dan menetap. Pendirian kampung tersebut sebagai cara agar warga kampung mendapatkan haknya.

Sebelumnya, Alumni Institue Agama Islam Negeri (IAIN, sekarang UIN) Sunan Ampel Surabaya ini mengatakan sempat bertanya-tanya dengan keberadaan Muhammadiyah yang diikuti oleh orang tuanya. Ia menceritakan sempat memprotes orang tuanya, karena praktik keagamaan yang ia pahami berbeda dengan yang dipahami oleh orang tuanya.

Ia menjelaskan bahwa, dakwah yang dilakukan oleh Muhammadiyah bukan hanya tentang persoalan fiqih. Melainkan bentuk amal nyata, seperti mendirikan sekolah. Karena kebutuhan mendasar selain ekonomi dan kesehatan, pendidikan menjadi kebutuhan pokok yang masih sulit diakses oleh masyarakat Kokoda. Keberadaan lembaga pendidikan menjadi kebutuhan pokok bagi generasi muda masyarakat Kokoda, adanya Muhammadiyah akses pendidikan kepada mereak menjadi muda.

Maka, keberadaan Muhammadiyah oleh Samsudin Namugur dianggap sebagai ibu yang tidak pandang pilih dalam menyayangi anak-anaknya.

Pemilihan pendekatan yang digunakan terhadap suku Kokoda dinilianya efektif, karena program-program yang akan dirumuskan dan dijalankan tidak mutlak hasil dari Muhammadiyah. Melainkan hasil dari ‘urun-rembug’ dan kesepakatan bersama. Artinya masyarakat Kampung Warmon Kokda tidak hanya diposisikan sebagai obyek, tetapi mereka juga sebagai subyek yang dengan sadar turut merumuskan program yang akan mereka jalankan dan rasakan.

Gerakan amaliyah yang dilakukan oleh Muhammadiyah di sana tidak bersifat ekslusif kepada muslim saja, melainkan inklusif kepada semua. Sehingga keberadaan bentuk-bentuk amal kebaikan yang dilakukan oleh Muhammadiyah juga dirasakan oleh masyarakat non-muslim. Kepala Kampung Adat Kokoda ini juga berujar bahwa, kini mereka sedang menyiapkan lahan seluas 10 Ha yang siap digarap oleh Muhammadiyah untuk didirikan Sekolah Menengah Peratama atau Madrsah Tsanawiyah (MTs) Muhammadiyah. (a'n)

Shared:
Shared:
1