'Aisyiyah Tabalong Peringati Milad ke-98

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 25 September 2012 09:46 WIB

 

Tabalong- Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, Ahad yang lalu telah memperingati Milad Aisyiyah ke 98 yang bertempat di Gedung TK ABA Mabuun Tanjung. Kegiatan Milad yang dirangkai dengan kegiatan halal bihalal seluruh warga Muhammadiyah dan Aisyiyah se Kabupaten Tabalong tersebut mengambil tema “Gerakan Peningkatan Peran Muballighat Aisyiyah untuk Penguatan Masyarakat Madani” yang diselenggarakan pada tanggal 23 September 2012 dan bertepatan tanggal 7 Zulqaidah 1433 H. Kegiatan Milad yang juga dihadiri unsur Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tabalong tersebut diawali dengan pembacaan sejarah berdirinya Aisyiyah. 

 

Dalam sejarahnya, sejak mendirikan Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan sangat memperhatikan pembinaan terhadap wanita. Untuk pertama anak-anak wanita yang benar-benar mendapat pengemblengan dan dipersiapkan supaya nanti dapat dijadikan pengurus dalam wanitanya Muhammadiyah, ada enam orang, yaitu: 1) Siti Bariyah; 2) Siti Dawimah; 3) Siti Dalalah; 4) Siti Busyro (puteri beliau sendiri); 5) Siti Wadingah; dan 6) Siti Badilah Zuber. Meskipun mereka masih anak-anak yang paling tinggi usianya baru 15 tahun tetapi mereka sudah diajak memikirkan soal-soal kemasyarakatan.

 

Sebelum `Aisyiyah secara kongkret terbentuk, sifat gerakan pembinaan wanita itu baru merupakan kelompok anak-anak yang senang berkumpul kemudian diberi bimbingan oleh KH. Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan dengan pelajaran agama. Kelompok anak-anak ini belum merupakan suatu organisasi, tetapi kelompok anak-anak yang diberi pengajian.

 

Disamping para gadis, orang-orang wanita yang sudah tuapun menjadi perhatian beliau. Karena ajaran dalam agama Islam tidak diperkenankan mengabaikan wanita. Mengingat pentingnya peranan wanita yang harus mendapatkan tempat yang layak, Nyai Dahlan bersama-sama KH Ahmad Dahlan mendirikan kelompok pengajian wanita yang anggotanya terdiri dari para gadis-gadis dan orang-orang wanita yang sudah tua.

 

Dalam perkembangannya kelompok pengajian wanita itu diberi nama SAPA TRESNA. Sapa Tresna ini belum berupa organisasi, tetapi hanya suatu gerakan pengajian saja. Maka untuk memberikan suatu nama yang kongkrit menjadi suatu perkumpulan, KH. Mokhtar mengadakan pertemuan dengan KH. Ahmad Dahlan yang juga dihadiri oleh KH. Fachruddin dan Ki Bagus Hadikusumo serta pengurus Muhammadiyah lainnya di rumah Nyai Ahmad Dahlan.

 

Waktu memberikan nama perkumpulan itu diusulkan nama FATIMAH, tetapi nama itu tidak diterima rapat. Kemudian oleh KH. Fahrodin dicetuskan nama `AISYIYAH. Rupa-rupanya nama inilah yang paling tepat sebagai organisasi wanita baru itu. Mengapa nama Aisyiyah itu dipandang tepat, karena diharapkan perjuangan perkumpulan itu meniru perjuangan `Aisyah isteri Nabi Muhammad Saw yang selalu membantu berdakwah. Setelah secara aklamasi perkumpulan itu diberi nama `Aisyiyah, kemudian diadakan upacara peresmian.

 

Upacara peresmian itu waktunya bersama-sama dengan peringatan isro` mi`roj Nabi Muhammad SAW pada tanggal 27 Rajab 1335 H yang bertepatan dengan tanggal 19 Mei 1917 M yang diadakan oleh Muhammadiyah untuk yang pertama kalinya. Tempat duduk murid-murid yang wanita dan kaum ibu dipisahkan dengan kelambu berwarna merah jambu. Adapun yang bertindak sebagai pembuka kelambu pada upacara itu ialah KH Mokhtar. [kh]

Shared:
Shared:
1