Kemajuan Teknologi Harus Diimbangi dengan Pengetahuan dan Penguatan Karakter

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 08 Agustus 2019 13:32 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, SURAKARTA — Pendidikan holistik yang memadukan intelegensi, emosional dan intelektual sebagai solusi atas era ketercerabutan (disrupsi)nilai-nilai sosial yang diakibatkan Teknologi Informasi (TI).

Hal tersebut disampaikan oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Kamis (8/8) dalam acara Sidang Terbuka Senat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) untuk Pengukuhan Prof. Sofyan Anif sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Manajemen Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMS.

Menghadapi era disrupsi, Haedar mengutip artikel yang ditulis oleh Sosiolog asal Amerika, Francis Fukuyama yang menyatakan pada era ini akan melahirkan sistem demokrasi yang semakin liberal. Era Teknologi Informasi selain meningkatkan kesejahteraan dan harapan masa depan, tapi juga mengoyak nilai-nilai dasar kemanusiaan.

Kemajuan teknologi informasi tanpa dibarengi penguatan pengetahuan dan karakter yang utuh menyebabkan terjadinya disrupsi sosial, disrupsi sosial yang terjadi meliputi luruhnya nilai-nilai human nature (kepribadian manusia), rusaknya ikatan keluarga, serta unwanted children (anak-anak yang tidak dikehendaki).

Mengajak untuk berkaca kepada sistem pendidikan yang digagas oleh KH. Ahmad Dahlan yang menggabungkan nilai religius dan berkemajuan, Haedar menjelaskan bahwa sistem pendidikan tersebut yang sekarang ini sedang dibutuhkan untuk tetap menjaga nilai-nilai dasar kemanusiaan.

Menurutnya, sistem pendidikan holistik yang dikembangkan dan menggabungkan antara intelegensi, emosional dan intelektual setidaknya menawarkan solusi dari era ketercerabutan ini. Selain lembaga pendidikan, peran perbaikan kemanusiaan dan generasi mendatang juga harus melibatkan lingkungan keluarga dan relasi sosial disekitarnya.

“Sebagai upaya perkuat dan perbaikan atas rusaknya nilai sosial yang disebabkan oleh Teknologi Informasi, organisasi pergerakan bisa ambil peran. Keberadaan organisasi tersebut, seperti halnya Muhammadiyah bisa menjadi perekat melalui penanganan terhadap isu-isu kemanusiaan yang dijawab melalui amal usaha, hasil pemikiran para tokohnya dan instrumen pendukung lainnya,” pungkas Haedar.

Shared:
Shared:
1