Jawab Tantangan Global, UM Surabaya Terus Berinovasi

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 06 Agustus 2019 10:05 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, SURABAYA – Berdiri sejak tahun 1948 Universitas Muhammadiyah Surabaya sebagai institusi pendidikan terus berpartisipasi dalam khazanah pendidikan Indonesia. UM Surabaya terus berfokus pada budaya inovasi sebagai mutu pengajarannya.

UM Surabaya mempercayai inovasi merupakan cara terbaik untuk semua probematika baik masa kini maupun masa mendatang. Dikatakan Rektor UM Surabaya, Suadiono, peradaban dunia saat ini ditandai dengan tiga aspek penting.

Pertama,demografi dunia berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Bumi saat ini telah menampung 6,5 miliar jiwa dan diproyeksikan mencapai 10 miliar jiwa pada 2050.

Kedua,dunia modern telah berkembang menjadi panggung krisis energi yang tak terbayangkan. Dunia saat ini mengonsumsi banyak energi tak terbarukan dalam jumlah yang membuat masa depan dunia berada pada bayang-bayang suramnya lingkungan hidup.

Ketiga,ekonomi global kini berbasis struktur raksasa dan dinamika ekonomi derivatif yang tidak nyata. Hal tersebut dalam beberapa kasus menyebabkan turbulensi dan ketidakpastian.

Atas aspek inilah UM Surabaya terus mencari solusi-solusi untuk tantangan global. Hal ini dibuktikan melalui karya mahasiswa yang pernah meraih medali emas pada ajang Internasional Intellectual Property, Invention and Tecnology Explosition (IPTEX) 2019 di Thailand pada Februari 2019 lalu.

Dalam inovasi lain UM Surabaya memperkenalkan lentera fotosintesis, yakni alat inovatif dibidang agrikultur modern yang berfungsi untuk mempercepat pertumbuhan tanaman serta bisa digunakan pada tanaman musiman. Dengan demikian, tanaman bisa tumbuh dan menghasilkan buah setiap musim. Lentera fotosintesis juga bisa digunakan pada pertanian di dalam gedung.

Tak hanya itu, mahasiswa UM Surabaya juga terus aktif mengikui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diadakan Kemenristekdikti setiap tahun. Tahun ini, ada 12 proposal PKM UM Surabaya yang didanai Kemenristekdikti.

Salah satunya adalah banana leaf oil, yaitu inovasi daun pisang sebagai obat iritasi pada bayi. Penelitian mahasiswa Analis Kesehatan FIK UM Surabaya tersebut menemukan bahwa daun pisang kering yang diekstraksi memiliki kandungan yang bisa menghambat pertumbuhan jamur dan mempercepat penyembuhan luka, iritasi, serta ruam.

”Alhamdulillah, semua hal itu bisa diraih dengan cara yang terstruktur dan sistematis untuk menciptakan budaya inovasi di UM Surabaya,” kata Sukadiono dalam keteranganya, pada (4/8).

Sukadiono, menjelaskan setidaknya terdapat beberapa cara untuk menciptakan budaya inovasi. Di antaranya, komitmen penuh, fasilitas dan infrastruktur yang mendukung, serta wadah untuk menampung ide-ide kreatif dari seluruh sivitas akademika.

Komitmen inovasi dibangun dengan kesadaran bahwa institusi pendidikan merupakan aktor utama untuk menciptakan solusi setiap permasalahan. Karena itu, ide kreatif untuk memecahkan masalah tersebut akan diwadahi Biro Administrasi Kemahasiswaan dan Alumni UM Surabaya. Kemudian, digodok bersama di laboratorium dan co-working space kampus.

Tidak ketinggalan para dosen UM Surabaya pun menuai prestasi. Kini UM Surabaya memiliki total lebih dari 100 hak cipta, paten, daftar desain industri, dan trademark atau merek yang sudah terdaftar. Semua itu mencakup berbagai karya yang dihasilkan dosen dari seluruh fakultas.

”Kami berharap inovasi ke depan bisa lebih kami tingkatkan. Semoga adanya gedung baru, At-Ta’awun Tower 31 lantai, bisa menstimulus cipta karya inovatif lainnya di UM Surabaya,” pungkas Sukadiono. (Andi)

Shared:
Shared:
1