Muhammadiyah Hidup dari Perbuatan Amalan Nyata, Bukan dari Perdebatan di Medsos

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 05 Agustus 2019 17:10 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — Bekerja sebagai ikhtiar yang memiliki dimensi keduniaan dan ke-akhiratan, dalam dimensi keduniaan manusia boleh saja mengharapkan ujrah (upahatau pendapatan)dan didimensi ke-akhiratan manusia bekerja juga yang terpenting adalah dengan mengharap ajrun (pahala).

Ajrun sebagai upah dalam bentuk pahala yang diberikan oleh AllahSWT, memiliki kualifikasi amalan yang dilakukan harus berlandaskan ikhlas. Seperti yang disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Senin (5/8) dalam pengajian ba’da dzuhur di Musholla Kantor PP Muhammadiyah jl, Cik Ditiro, No 23, Terban, Yogyakarta.

Kader yang merangkap menjadi karyawan baik di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, maupun yang bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) menurut Haedar merupakan sebuah kesatuan dari relasi sosial. Sehingga, kesatuan tersebut memiliki kewajiban untuk saling menguatkan dan menjalin silaturahim. Bentuk silaturahim yang dilakukan bukan hanya pada momen hari raya atau syawalan saja, melainkan setiap keadaan dan setiap waktu yang kondisional.

Meskipun hidup di era informasi teknologi, Haedar berpesan untuk tidak lupa tetap saling silaturahim dalam bentuk kunjungan ke rumah atau membuat janjian di suatu tempat. Bertemunya seorang muslim dengan muslim lainnya merupakan sebuah hadiah, yang didalamnya kedua belah pihak saling salam, berjabat tangan, dan berbagi informasi positif yang didapatkan. Dalam salah satu potongan hadist juga disebutkan silaturahim bisa menjadi memanjangkan ‘umur’.

Haedar mewanti-wanti dalam menghadapi era informasi terlebih media sosial, dimana manusia, termasuk juga kader Muhammadiyah yang memiliki kedekatan intensif dengan media sosial untuk lebih berhati-hati. Terlebih dalam membesarkan dan membangun Muhammadiyah, menurutnya Muhammadiyah hidup dari perbuatan atau amalan nyata, bukan dari perdebatan melalui media masa. 

"Anggota, kader, lebih-lebih pimpinan di lingkungan Persyarikatan jangan merasa sudah berbuat hanya dengan sibuk ber-Whatsapp tanpa terlibat langsung dalam menggerakkan memajukan Muhammadiyah," pesan Haedar. 
 
Apalagi manakala di media sosial lebih banyak memproduksi hal-hal yang kontraproduktif dan membuat hati, pikiran, dan sikap kita menjadi kehilangan optimisme serta semangat berikhtiar untuk memajukan dakwah Muhammadiyah.

 

"Pimpinan dan juga kader Muhammadiyah jangan hanya sibuk berdebat di media sosial, tanpa melakukan aksi konkrit berupa kebermanfaatan yang bisa dirasakan oleh masyarakat atau umat," harap Haedar. 

Maka, selain mendapatkan ujrah. Karyawan Muhammadiyah dalam bekerja juga harus berharap kepada ajrun, yaitu lapisan kedua dari ikhtiar yang tidak terlihat di dunia namun menjadi tabungan di Yaumul Akhir nanti.

Haedar juga berpesan kepada karyawan Muhammadiyah untuk juga menghidupkan jiwa kewirausahaan, karena wirausaha juga merupakan etos orang Muhammadiyah. Sehingga karyawan ataupun kader Muhammadiyah mampu berdaya di atas kakinya sendiri, tidak perlu menggantungkan diri kepada orang lain.

“Sehingga semangat memberi dan melakukan kebaikan seperti yang biasa dilakukan oleh para pendahulu Muhammadiyah turut bisa dilakukan oleh warga persyarikatan sekarang ini,” pungkas Haedar.

Shared:
Shared:
1