Kesejarahan Tapak Suci dan Pembentukan Karakter Bangsa Indonesia

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 31 Juli 2019 12:50 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA—“Dengan Iman dan Akhlak saya menjadi kuat, tanpa Iman dan Akhlak saya menjadi lemah,” sebuah motto agung yang dimiliki oleh Organisasi Otonom Muhammadiyah (Ortom) yang secara khusus membidangi pencak silat dan olah raga, Tapak Suci Putera Muhammadiyah (TSPM).

Motto tersebut sebagai pelecut semangat pendekar Tapak Suci (TS) dalam setiap menghadapai halang-rintang didepannya, TS juga tercatat sebagai sepuluh perguruan Historis dalam Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Kehadiran TS sebagai salah satu Perguruan Historis pencak silat di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari akar sejarah dan perananya dalam menyumbang beberapa pendekarnya untuk mewakili Indonesia dalam kejuaran pencak silat kelas dunia.

TS dalam perkembangan awal adalah aliran pencak silat yang dibawa oleh Ibrahim yang kemudian menganti namanya menjadi K.H. Busyro Syuhada sepulang dari Tanah Suci. Pengantian nama tersebut ia lakukan sebagai cara mengelabuhi Belanda. Setelah mendirikan Pondok Pesantren Binorong di Banjarnegara, KH Syuhada kemudian mengembangan sayapnya. Ia pada tahun 1921 mengikuti konferensi di Yogyakarta, dari sini titik awal perjumpaannya dengan A. Dimyati dan M. Wahab, kakak beradik yang memiliki ketertarikan terhadap KH Syuhada akan keahlian pencaknya.

Dua bersaudara tersebut kemudian meminta izin kepada sang Guru untuk membuka latihan pencak silat di Kauman, Yogyakarta. Sehingga pada tahun 1925 dibukalah perguruan pencak silat yang diberi nama Ci Kauman. Dilandasi paham keagamaan Islam yang kuat dan kecintaan kepada Tanah Air yang tinggi, aliran pencak silat Ci Kauman menjadi media dakwah yang banyak menarik kalangan dan mampu menghalau praktik ritual keagamaan yang berbau syirik.

Kemudian salah satu murid Ci Kanoman yang bernama M Syamsuddin lulus dan mendirikan perguruan Pecak Silat yang diberi nama Seranoman pada tahun 1930, yang dari perguruan Seranoman ini kemudian berhasil mencatak murid yang piawai dalam pencak silat yang bernama M Zahid. Keberadaan kedua perguruan tersebut juga berperan dalam perlawanan terhadap penjajah, murid-muridnya bergabung menjadi angota Laskar Angkatan Perang Sabil (APS). Berkat ridho Allah SWt dan keuletan M Zahid, berhasil mendidik seorang murid kinasih yang memiliki kemampuan silat diatas rata-rata yang bernama Moh. Barrie Irsyad yang mengikuti jejak pendahulunya dan mendirikan perguruan pencak silat yang ia beri nama Kasegu pada tahun 1951.

Ketika politik nasional mulai memanas akibat ulah komunis, Moh Barrie Irsyad didorong oleh murid-muridnya untuk menyatukan ketiga perguruan tersebut sebagai wadah perlawanan umat Islam terhadap komunis. Kemudian pada 31 Juli tahun 1963 berhasil mengabungkan ketiga perguruan tersebut menjadi Perguruan Tapak Suci, yang pada tahun 1964 dalam kepemimpinan KH Baidawi, TS diterima sebagai Ortom Muhammadiyah.

Berangkat dari kesejarahan tersebut prinsip dasar organisasi TS PM dibentuk. Antara lain, mendidik serta membina ketangkasan dan ketrampilan pencak silat sebagai seni beladiri Indonesia, memelihara kemurnian pencak silat sebagai seni beladiri Indonesia yang sesuai dan tidak menyimpang dari ajaran Islam sebagai budaya bangsa yang luhur dan bermoral, mendidik dan membina anggota untuk menjadi kader Muhammadiyah, melalui seni beladiri menggembirakan dan mengamalkan dakwah amar ma'ruf nahi munkar dalam usaha mempertinggi ketahanan Nasional. TS PM dalam beberapa kejuaran olah raga Pencak Silat penting selalu mengirimkan atlitnya untuk mewakili Indonesia, tercatat beberapa nama ‘beken’ di dunia persilatan ansional seperti Abas Akbar, Rony Saifullah, Iqbal Candra, Awaludin Noor, dan masih banyak lagi. (aan)

Shared:
Shared:
1