Yunus Anis, Sosok Pribadi Tangguh sebagai Suluh ke-Umatan dan ke-Bangsaan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 26 Juli 2019 13:12 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — Imam Tentara itu ternyata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ke-7, yang selama seratus hari ditugaskan melawat keberbagai negara untuk studi banding dan menyusun tata kelola pemeliharaan keruhanian militer Indonesia. Ialah Muhammad Yunus Anis Ketua PP Muhammadiyah periode 1959-1962, keturunan ke-18 Raja Brawijaya 5 dari jalur dari Ayah yang seorang Abdi Dalem bernama Muhammad Anis dan seorang ibu Siti Saudah.

Kepribadian tangguh dan kokoh yang dimiliki Yunus Anis berasal dari tempaan ayahnya yang merupakan kawan seperjuangan KH Ahmad Dahlan. Selain non-formal, Yunus Anis juga menempuh pendidikan formal di Sekolah Rakyat (SR) Muhammadiyah, kemudian dilanjutkan ke Sekolah al-Atas dan Sekolah al-Irsyad yang dibimbing oleh Syekh Ahmad Syurkati, pendiri Jam’iyat wal Irsyad al-Islamiyyah (Al-Irsyad). Berkat semangat belajar dari berbagai pihak yang dilakukannya, Yunus Anis tumbuh menjadi seorang mubaligh yang tangguh. Proses pendidikan tersebut mengantarkannya dalam meniti karir militer sebagai warga militer yang teguh dalam melaksanakan perintah agamanya.

Yunus Anis dilahirkan di Kampung Kauman, Yogyakarta pada 30 Mei 1903, terlahir di keluarga yang taat beragama menjadikan Yunus Anis memiliki keteguhan dalam persoalan agama. Ia berpedoman bahwa Al Qur’an dan As Sunah sebagai sumber inspirasi dalam bertindak. Pengetahuan dan kedalaman ilmu agama yang dimiliki tersebut juga Ia terapkan ketika berada di karir militer. Sejak kepemimpinan Jendral Besar Sudirman, dia diminta sebagai penasehat agama sang Jendral. Kemampuan tersebut juga turut membentuk figur kepemimpinan dalam persoalan agama, di Kesatuannya Yunus Anis sering dipangil sebagai Imam Tentara.

Ketika terjadi krisis politik nasional, militer Indonesia tidak luput dari prahara yang sedang berkecamuk tersebut. Tentara Indonesia ditunut tetap berada pada garis koridor yang tetap tegak untuk mengawal negara dengan benar, sesuai dengan relnya. Maka pada 1954, Yunus Anis diangkat menjadi Kepala Pemeliharaan Rohani Imam Tentara Angkatan Darat (PRIAD). Melalui jabatan yang diterimanya, ia bertugas membina dan menata mental serta spiritual tentara nasional Indonesia.

Keahlian dalam mendidik mental dan rohani tentara Republik Indonesia sebelumnya juga diterapkanya kepada kepanduan Hizbul Wathan (HW) Muhammadiyah. Tugas di Kepanduan HW dilakukannya dengan penuh semangat dan percaya diri, tugas tersebut dilakukan semata karena Allah untuk membentuk anak-anak muda Muhammadiyah sehingga memiliki jiwa agresif yang bersendikan nilai-nilai Islam. Dalam sebuah catatan yang tidak diketahui tahun kejadiannya, diceritakan bahwa, ketika Apel Besar HW yang diselengarakan di Alun-alun Utara Yogyakarta. Yunus Anis tampil membangkitkan semangat barisan Pandu dengan menunggang kuda. Dengan postur tubuh tinggi besar dan gagah, penampilan Yunus Anis seperti suluh yang membakar keringnya semangat barisan Pandu yang mayoritas diisi anak-anak muda Muhamamdiyah.(a’n)

Shared:
Shared:
1