Warga Muhammadiyah Harus Mampu Membangun Kesalehan Kolektif

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 25 Juli 2019 15:30 WIB
MUHAMMADIYAH.ID, KULONPROGO —Banyak masyarakat salah menilai terhadap Muhammadiyah, pencirian yang mereka lakukan hanya melihat pada ranah permukaan. Seperti halnya melihat Muhammadiyah atas penilaian tidak melakukan qunut, tidak melakukan tahlilan, dan ritual sejenisnya. Padahal sebagai organisasai Islam berpaham Ahlusunnah wal Jama’ah, Muhammadiyah dalam persoalan pokok sama dengan yang lain.
 
Hal tersebut diungkap Khaeruddin Khamsin, Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam acara Baitul Arqam Unit Kegiatan Mahasiswa (BA UKM) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada (24/7) di Banjarasri, Kalibawang, Kulonprogo.
 
“Muhammadiyah tidak berbeda secara fundamental dengan organisasi Islam lainnya. Namun dalam persoalan cabang adanya perbedaan itu lumrah,” ungkapnya.
 
Pencirian yang dilakukan masyarakat awam tentang Muhammadiyah hanya persoalan yang dangkal, bukan suatu yang perlu dipertajam sebagai perbedaan sesama organisasi Islam. Meski memiliki persamaan, namun Muhammadiyah juga memiliki karakter yang secara khusus bisa mengidentifikasi bahwa intentitas tersebut adalah Muhammadiyah.
 
Identitas tersebut menjadi karakter pembeda yang harus dimiliki oleh warga atau kader Persyarikatan Muhammadiyah. Menurutnya, karakter yang dibangun oleh kader dan warga Persyarikatan Muhammadiyah digali dari dua sumber utama, yaitu Al Qur’an dan Assunnah. Dua sumber tersebut sebagai penyebab utama terbentuknya karakter, yang kemudian terpolarisasi dan menciptakan komunitas-komunitas yang berkarakter Islami.
 
“Ciri kader Persyarikatan adalah memiliki keunggulan atas ilmu yang mendalam dan luas, yang berlandaskan Al Qur’an dan Assunah. Kemudian dari ilmu tersebut berdampak positif pada lingkungan sosial,” tambahnya.
 
Keilmuan mendalam yang dimiliki kader atau warga persyarikatan memiliki tujuan untuk terciptanya manusia-manusia unggul yang mampu mereaktualisasikan nilai-nilai ihsan dan islah. Hal tersebut secara berterusan diharapkan bisa membangun kesalehan kolektif, sehingga tujuan Muhammadiyah bisa terwujudkan.
Namun keinginan tersebut terjegal karena budaya yang hidup di umat Islam sendiri, menurut Khamsin, hal itu disebabkan krena lemahnya budaya baca dan gemarnya budaya semak yang tidak utuh. Budaya tersebut mendapat dukungan dengan keadaan zaman, dimana masayarakat atau umat dikepung era informasi yang serba banalitas. Maka diperlukan adanya rombakan budaya guna mencapai cita luhur yang diinginkan.
Shared:
Shared:
1