Faqih Usman, Sosok Ulama ‘Komplit’

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 12 Juli 2019 13:08 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — Singkat namun komplit dalam berbuat untuk umat dan Muhammadiyah, Ia adalah Faqih Usman, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tahun 1968. Meski memimpin Muhammadiyah sebagai Ketua Umum hanya beberapa bulan, sejak terpilihnya pada Muktamar ke-37 tahun 1968 di Yogyakarta, kemudian pada 3 Oktober 1968 wafat, dan digantikan KH AR Fachruddin.

KH. Faqih Usman harusnya memimpin sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah untuk periode 1968-1971, namun Yang Maha Kuasa berkehendak lain, tepatnya 3 Oktober 1968 beliau dipanggil menghadap-Nya. Tokoh Muhammadiyah kelahiran Gresik, 2 Maret 1904 ini selain dikenal sebagai ulama-cendikia. Juga merupakan sosok yang dikenal memiliki etos enterpreneurship.

Sebelum diangkat sebagai Ketua Group Muhammadiyah Gresik, Faqih Usman memiliki kiprah  ‘mentereng’ dalam dunia bisnis. Diantaranya adalah kegiatan bisnisnya yang cukup besar adalah mendirikan perusahan yang bergerak dalam bidang penyediaan alat-alat bangunan, galangan kapal, serta pabrik tenun di Gresik.

Kegiatan bisnis yang dilakukannya merupakan hasil analisis mendalam terkait topografi daerahnya, Gresik sejak lama memang dikenal sebagai kota perdagangan dan bandar yang banyak dikunjungi oleh banyak bangsa seperti China, Arab, Champa, dan Gujarat. Karena letaknya yang strategis, Gresik juga sebagai pintu gerbang dan tempat bersentuhannya berbagai budaya, termasuk tempat awal mula masuknya Islam ke Jawa.

Kepiawaian dan kejelian tersebut membawa Faqih Usman menjadi Ketua Persekutuan Dagang Sekawan se- daerah Gresik. Kepiawaian yang dimilikinya tidak hanya digunakan dalam kegiatan bisnis. Selain di Muhammadiyah, Ia terlibat aktif dengan berbagai organisasi masyarakat. Seperti di Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) tahun 1937, anggota Komite Nasional Pusat dan Ketua Komite Nasional Surabaya tahun 1945.

Dalam perjuangan literasi, pada tahun 1959 Faqih Usman bersama Buya Hamka, Yusuf Abdullah Puar, dan Yusuf Ahmad menerbitkan Majalah Panji Masyarakat. Majalah yang menjadi corong umat Islam pada masa itu, yang juga memiliki ikatan erat dengan Muhammadiyah. Kejeliannya juga dipakai sebagai alat berjuang melalui kendaraan politik dengan ikut andil dalam pendirian Partai Masyumi, 7 November 1945 ketika Muktamar Umat Islam di Yogyakarta.

Sebelum menjabat sebagai ketua Umum, Faqih Usman pada kepemimpinan KH Baidawi yang pertama (1962-1965) berpidato dengan judul “Apakah Muhammadiyah itu?” mendapat sambutan serius dari para cendikiawan Muhammadiyah lain. Terpantik dari pidato tersebut, kemudian dibentuklah tim perumus Kepribadian Muhammadiyah yang beranggotakanKH. Farid Makruf, Jarnawi Hadikusumo, M. Jindar Tamimy, Buya Hamka, KH. Wardan Diponingrat, dan M. Saleh Ibrahim.

Hasil rumusan tersebut setelah disempurnakan, kemudian pada tahun 29 April 1963 disahkan dalam Sidang Pleno Muhammadiyah sebagai “Matan Rumusan Kepribadian Muhammadiyah” yang berisi 4 pokok bahasan, pertama, Apakah Muhammadiyah itu ?, kedua, Dasar dan Amal Usaha Muhammadiyah, ketiga, Pedoman Amal Usaha dan Perjuangan Muhammadiyah, dan keempat, sifat Muhammadiyah.

Faqih Usman sebagai ulama dan pemimpin yang ‘komplit’ terbentuk mulai dari rangkaian timangan keilmuan keluarga. Ia berasal dari keluarga santri pesisir Jawa sederhana yang taat beribadah, mulai belajar agama dari ayahnya sendiri, Menginjak usia remaja ia belajar di pondok pesantren di Gresik tahun 1914-1918. Kemudian, antara tahun 1918-1924 dia menimba ilmu pengetahuan di pondok pesantren di luar daerah Gresik. Dengan demikian, Ia juga banyak mengua­sai buku-buku yang diajarkan di pesantren-pesantren tradisional, karena penguasaannya dalam bahasa Arab. Dia juga terbiasa membaca surat kabar dan majalah berbahasa Arab, terutama dari Mesir yang berisi tentang pergerakan kemer­dekaan.(a’n)

Shared:
Shared:
1