Menggarap Masalah Umat Lebih Penting Daripada Terlena Dalam Politik Praktis

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 06 Juli 2019 09:51 WIB
MUHAMMADIYAH.ID, JAKARTA – Pimpinan Pusat Muhammadiyah kembali menggelar Pengajian Bulanan setelah rehat Ramadan 1440 H pada Jumat (5/7). Bertempat di Aula KH. Ahmad Dahlan Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta, tema yang diangkat adalah "Konsolidasi Sosial-Politik Untuk Kemajuan Umat dan Bangsa."
 
“Tema ini diangkat agar move on setelah sembilan bulan energi kita terkuras oleh hiruk-pikuk politik, terutama pesan bagi warga Persyarikatan bahwa banyak agenda mendesak untuk diselesaikan sehingga Majelis dan Lembaga melakukan rapat koordinasi dan lain-lain dengan harapan Muhammadiyah dengan segala potensinya dapat lebih bersinergi dengan agenda kebangsaan yang bisa kita perkuat bersama,” ungkap Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti.
 
Penguatan Ekonomi Umat adalah Kunci Utama
 
Menyambung Abdul Mu’ti, Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas sepakat dan menilai bahwa agenda kebangsaan dan umat Islam lebih perlu untuk digarap dengan tekun daripada teralihkan oleh hiruk-pikuk politik praktis. 
 
Dalam agenda yang lebih luas, menurut Anwar Abbas Muhammadiyah patut terus mematangkan dan menempatkan kadernya dalam sebelas elit strategis seperti agamawan, politisi, cendekiawan, aparat, jurnalis, birokrat, kelompok profesional, birokrat, pendidik, pekerja sosial, budayawan dan pengusaha agar memberi warna bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
 
“Kita harus menempatkan orang-orang kita di sana. Sebab nasib orang Islam di negeri ini selalu dibenturkan dengan negara. Dalam pemahaman saya yang paling strategis adalah elit pengusaha, ini yang kita tidak punya. Jika memakai teori Jeffrey Winters dan Noam Chomsky mereka yang menguasai ekonomi dan bisnis akan menguasai dunia politik. Apalagi dunia politik kita adalah transaksional. Kita tidak punya modal. Akhirnya ada dua cara yaitu dikasih atau minta. Padahal yang diberi modal otomatis tunduk menjadi tawanan si pemberi,” ujar Anwar. 
 
“Yang tidak kita punya yaitu elit pengusaha. Konsolidasi artinya memperkuat posisi ekonomi umat agar kita maju dan berkontribusi untuk bangsa ini. Nasib kita sebagai umat Islam termasuk Muhammadiyah tidak akan berubah kecuali jika umat Islam memacu diri dalam ekonomi dan bisnis. Jika kita kuat secara ekonomi maka kita akan dihormati. Muhammadiyah bersyukur pilar ekonomi sudah ditancapkan di muktamar Ujungpandang Makassar,” imbuh Anwar.
 
Selapas Anwar, narasumber lainnya Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, M.Sc menegaskan kembali bahwa umat tidak boleh terlena dalam masalah politik praktis, sebab politik hanyalah alat untuk meraih tujuan besar yaitu kemaslahatan.
 
“Jadi jangan sampai mempertaruhkan pilihan politik daripada kemaslahatan. Kemajuan umat ada indikatornya, pertama kesejahteraan sosial dan ekonomi, kedua dunia pendidikan dengan esensi karakter sehingga lahir etos disiplin, ketekunan, dan kejujuran tinggi. Ketiga, adalah indikator kesehatan. Pendukung ketiga indikator itu selain politik adalah sains dan teknologi. Jangan sampai kita hanya menjadi perpanjangan tangan negara-negara produsen,” ujar Asep Saefudin sambil memuji Muhammadiyah yang menurutnya sukses pada ketiga indikator tersebut dilihat dari fokus Muhammadiyah pada bidang Pendidikan, Pelayanan Sosial, dan Ekonomi. 
 
Setali tiga uang, Rektor UIN Salatiga Prof. Dr. H. Zakiyuddin Baedhowi, M.Ag sebagai pembicara terakhir mengingatkan bahwa prinsip dan nilai-nilai Muhammadiyah perlu dikuatkan sembari terus berjuang tekun dan sabar.
 
“Untuk menjadi sukses harus ditempuh dari banyak jalan. Prinsip yang penting adalah fastabiqul khairat. Dalam keberagaman yang ada ini mari kita berlomba-lomba dalam kebajikan dan yang harus dimaknai adalah kita harus memenangkan perlombaan itu,” pesan Zakiyuddin.
 
“Pada bidang pendidikan, kesehatan dan sosial itu sudah diikuti oleh organisasi Islam yang lain maka Muhammadiyah harus mengembangkan dan berinovasi lagi agar tetap memimpin. Harus bersabar. Kalau konsolidasi mau kuat contohlah Nabi saat membangun Madinah. Nabi didukung oleh unsur pengusaha, cendekiawan dan penjaga keamanan,” tukas Zakiyuddin. (Afandi)
 
Shared:
Shared:
1