Semangat Al-Maun Perlu Diseimbangkan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 03 Juli 2019 10:44 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA— Gerakan amal Muhammadiyah perlu diseimbangkan, jika teologi al Ma’un sebagai basis ideologi dalam membangun dan memberikan kebermanfaatan bagi umat dalam aspek jumlah dan karikatif. Maka, reaktualisasi teologi al Ashr sebagai basis ideologi dalam meningkatkan kualitas gerakan amal Muhammadiyah.

Gerakan amal Muhammadiyah dalam bentuk fisik seperti, pembangunan sarana pendidikan, kesehatan, sosial dan ekonomi, serta semangat memberi yang dilakukan oleh Muhammadiyah terhitung sudah mencapai angka ratusan. Namun dari sekian ratus jumlah Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang dimiliki, secara kualitas masih sulit ditemui sebagai lembaga atau instasni terbaik. Masih kalah dengan milik swasta lain, atau juga negeri.

Semangat replikasi teologi al Ma’un yang dilakukan oleh Muhammadiyah memang luar biasa dalam segi jumlah, namun masih paradok dengan kualitas yang dikembangkannya. Menurut Sukriyanto AR, Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah hal ini lebih disebabkan karena pengamalan yang dilakukan oleh orang-orang Muhammadiyah masih berkutat pada pengamalan surat Al Ma’un semata (al Ma’un minded).

“Al Qur’an itu terdiri dari 114 surat, al Ma’un itu hanya salah satu diantaranya. Maka sebagai organisasi Islam dengan konsep berkemajuan, harusnya Muhammadiyah juga mengkaji 113 surat lainnya,” ungkap Sukriyanto.

Mengulas sejarah materi ajar yang disampaikan oleh KH Ahmad Dahlan kepada murid/santrinya kala itu, al Ma’un disampaikan dalam waktu yang lebih pendek dari pada al Ashr. Jika al Ma’un disampaikan kurang lebih selama tiga bulan, al Ashr disampaikan KH Ahmad Dahlan selama delapan bulan. Hal ini terjadi tatkala KH Ahmad Dahlan menginsyafi pendapat Imam Syafi’i bahwa, ‘Jika surat ini satu-satunya yang dikirim untuk manusia maka akan cukup bagi mereka.’

Menyimak makna yang tersirat dalam surat al Ma’un sebenarnya mentarbiyah manusia untuk memiliki management disiplin waktu. Putra dari KH AR Fakhrudin ini menerangkan, etos yang paling mencolok dan timpang antara negara maju dengan negara tertinggal adalah terkait management waktu. Terlebih di era sekarang ini, manusia bukan hanya dituntut tepat tapi juga cepat.

 “Pimpinan Muhammadiyah dahulu ketika membaca surat ini juga mengamalkannya, misal janji rapat pada pukul 01.00 maka ketua atau pimpinan Muhammadiyah saat itu sudah berada di tempat lima meit sebelum rapat dimulai,” kenangnya.

Maka konsekuensi dari konsep berkemajuan yang dimilikinya, Muhammadiyah harus terus melakukan pembaharuan pemahaman yang merujuk kepada al Qur’an dan Sunnah. Sehingga Islam menjadi agama yang selalu kompatibel dengan gerakan zaman.

Hal ini seperti yang ditulis oleh Haedar Nashir, ketua Umum PP Muhammadiyah yang menyatakan bahwa, Muhammadiyah lahir dengan gagasan untuk melakukan reformasi dan mereformulasikannya dalam konteks zaman yang bersifat kekinian. Pembaruan Muhammadiyah merupakan usaha tajdid yang pangkalnya kembali pada al Qur’an dan Sunnah baik yang bersifat pemurnian ajaran Islam dari hal-hal yang bukan Islam, sekaligus melakukan pembaruan tafsir atau pemikiran dan amal Islami menuju pada kemajuan hidup. (lihat; Esiklopedi Muhammadiyah Jilid I, hal 222) (a'n)

Shared:
Shared:
1