Melangkah Bersama Meraih Kemajuan Indonesia

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 28 Juni 2019 09:49 WIB
MUHAMMADIYAH. ID, YOGYAKARTA-Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) telah menjadi rujukan konstitusional bagi para pihak yang bersengketa  dalam pemilu pilpres dan bagi segenap komponen bangsa. Pihak Prabowo-Sandi pun dengan jiwa besar menghormati keputusan MK tersebut. 
 
Disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, hal ini menunjukkan kedewasaan dan kenegarawanan politik sebagai modal berharga dalam kehidupan kebangsaan. 
 
"Karenanya diucapkan selamat kepada pasangan Jokowi-Ma'ruf atas terpilihnya sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI 2019-2024 dengan amanat yang sangat berat. Selamat pula kepada Prabowo-Sandi yang menunjukkan sikap legowo sebagai  contoh  keteladanan politik bangsa," ucap Haedar pada Jumat (28/6).
 
Haedar mengatakan, tugas dan tantangan bersama bangsa Indonesia saat ini dan ke depan sangatlah berat di berbagai bidang kehidupan yang memerlukan tekad dan kesungguhan politik yang tinggi bagi pemegang mandat rakyat lebih dari kemenangan itu sendiri. 
 
"Indonesia juga memerlukan kebersamaan dari seluruh kekuatan nasional. Karenanya politik partisan 01 dan 02 sudah berakhir serta tidak perlu diperpanjang dalam isu dan kepentingan apapun, yang ada adalah satu keluarga besar Indonesia," jelas Haedar. 
 
Haedar juga menegaskan bahwa Presiden dan Wakil Presiden untuk semua dan bukan untuk satu golongan pemilih dan pendukungnya saja, sehingga harus mengayomi dan menjadi pemimpin seluruh rakyat Indonesia. 
 
"Rekonsiliasi politik dan kultural menjadi keniscayaan dari suruh pihak secara autentik dan sungguh, bukan sebagai retorika publik," tegas Haedar. 
 
Haedar mengajak pasca keputusan MK bagi seluruh rakyat dan kekuatan bangsa untuk melangkah bersama meraih masa depan Indonesia berkemajuan guna menyelesaikan masalah-masalah besar bangsa guna mewujudkan cita-cita nasional yang kian berat dan penuh tantangan. 
 
"Tidak perlu eforia dalam kemenangan karena masalah dan tantangan Indonesia sangatlah berat dan kompleks. Jauhi pula keterbelahan bangsa akibat sikap politik yang negatif dan ekses dari pemilu. Jangan sampai Indonesia terkapling-kapling dalam primordialisme dan pengkutuban politik, agama, dan golongan yang menyebabkan lemahnya persatuan Indonesia," tutur Haedar. 
 
Indonesia pasca pemilu 2019 harus move-on merajut kebersamaan dan persatuan guna meraih kemajuan dan kejayaan bagi seluruh rakyat. Mereka yang kuat secara politik dan ekonomi serta berbagai aspek kehidupan wajib berbagi, peduli, dan menunjukkan tanggungjawab kebangsaannya dalam membangun dan memajukan Indonesia, jangan egois dan serakah. Memang masalah politik yang serius jangka pendek ialah merekat kohesi sosial politik akibat keterbelahan politik, tetapi musuh terbesar Indonesia saat ini ialah ketidakdilan dan kesenjangan sosial ekonomi oleh berbagai sebab yang kompleks dalam rentang waktu yang panjang. 
 
"Karenanya agenda terberat Indonesia ialah mewujudkan sila Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pemerintah baik eksekutif maupun legislatif dan yudikatif bersama seluruh institusi politik di negeri ini dituntut political-will dan langkah terobosan yang progresif dalam memecahkan kesenjangan sosial ekonomi," ucap Haedar. 
 
Kelompok yang menguasai kekayaan besar dan aset-aset strategis harus memiliki jiwa nasionalisme untuk berbagi, peduli, dan memajukan mayoritas yang tidak beruntung, jangan hanya mementingkan diri sendiri. 
 
"Segenap kekuatan masyarakat dan rakyat juga harus bangkit untuk maju dengan jiwa mandiri dan etos kerja tinggi. Semua harus bertumpu pada spirit bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu bangsa hingga bangsa itu sendiri yang mengubah nasibnya," pungkas Haedar. 
Shared:
Shared:
1