Muhammadiyah Papua Barat Membanggakan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 31 Mei 2019 11:41 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, SORONG — Identik sebagai daerah 3T (Terluar, Tertinggal, dan Terdalam), Provinsi Papua Barat mulai berbenah dan perlahan melepas dan mengganti identitas tersebut. Langkah perubahan tersebut tidak terlepas dari peran banyak pihak, salah satunya adalah Muhammadiyah.

Sebagai organisasi kemasyarakatan, peran Muhammadiyah terhadap kemajuan bangsa tidak bisa dinafikan. Dakwah pencerahan yang diusung Muhammadiyah bukan hanya soal pemurnian tauhid yang hanya berdimensi teologis, tapi juga berdimensi antroposentris dan lingkungan.

Sehingga dakwah pencerahan oleh Muhammadiyah bisa dirasakan bukan hanya golongan umat muslim saja, tapi juga seluruh umat manusia. Hal ini merupakan wujud implementasi dan penegasan bahwa, Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Contoh nyata tersebut bisa dilihat di Wilayah Papua, Khususnya Provinsi Papua Barat.

Manokwari, kota yang terletak disebelah utara Provinsi Papua Barat dan terkenal dengan julukan Kota Injil. Meski disebut sebagai Kota Injil, Muhammadiyah di Manokwari bisa tetap diterima dan saling bahu-membahu dan bekerjasama untuk kemajuan dan perbaikan kesejahteraan masyarakat Manokwari. Terlebih dalam bidang pendidikan, Muhammadiyah saat ini memiliki Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Manokwari.

STKIP Muhammadiyah Manokwari sendiri diresmikan sesuai dengan SK Pendidikan Tinggi pada tahun 2008. Kini, STKIP Muhammadiyah Manokwari memiliki lima Program Studi aktif untuk jenjang S1. Yaitu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Biologi, Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), dan Pendidikan Matematika. Menjadi Sekolah Tinggi Muhammadiyah yang terus berkembang, mahasiswa STKIP Muhammadiyah Manokwari pada tahun 2019 berjumlah 978, dengan rasio dosen dan mahasiswa 1 : 26.4.

Bergeser ke barat, tepatnya di Kabupaten Sorong. Geliat Muhammadiyah semakin tampak mencerahkan, karena di Kabupaten yang memiliki luas 18.170 Km2 ini Muhammadiyah memiliki dua perguruan tinggi, Universitas Unversitas Pendidikan Muhammadiyah (UNIMUDA) Sorong dan Universitas Muhammadiyah (UM) Sorong.

Unimuda sendiri dipimpian oleh Rustamadji, rektor yang beberapa waktu lalu mendapat penghargaan sebagai tokoh perubahan oleh Republika tahun 2019. Dalam implementasi Tri Dharma perguruan tinggi, Unimuda Sorong telah masif melakukan pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh Unimuda bekerjasama dengan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah.

Pemberdayaan yang dilakukan menyasar suku Kokoda, mereka berhasil melatih masyarakat suku Kokoda untuk bertani, nelayan dan menetap, dimana sebelumnya nomaden. Pelatihan life skill yang diberikan membuahkan hasil, selain meningkatkan taraf kesejahteraan di bidang pendapatan ekonomi. Unimuda bersama MPM juga berhasil membangun lembaga pendidikan kampung Warmon, Distrik Mayamuk, Kabupaten Kokoda, disana juga sudah ada rumah baca yang siap menampung minat baca generasi muda masyarakat suku Kokoda.

Selanjutnya ada UM Sorong, UM Sorong termasuk diantara kampus atau lembaga pendidkan tertua di Kabupaten Sorong. Sebelum menjadi UM Sorong, lembaga pendidikan ini berstatus sekolah Tinggi Ilmu Admistrasi Negara (STIA) Al- Amin Sorong pada tanggal 30 Oktober 1984 berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0519/0/1984. Kemudian berdasarkan Keputusan Dirjen Dikti Depdikbud Nomor 264/D/O/2002 tanggal 20 Desember 2002 menjadi Universitas Al Amin Muhammadiyah Sorong.

Kemudian berdasarkan Keputusan Dirjen Dikti Depdikbud Nomor 568/E/O/2013 tanggal 09 Desember 2013 berubah menjadi UM Sorong. UM Sorong kini menampungsebanyak 7.996 mahasiswa dan 14 program studi. Dengan rasio dosen tetap dan jumlah mahasiswa 1 : 41.6.

Rustamadji, Sang Tokoh Perubahan dari UNIMUDA

Stigma negatif kerap menjadi cap bagi warga Suku Kokoda. Suku yang hidup di Kampung Warmon Kokoda, Kabupaten Sorong, Papua Barat, itu selalu dianggap masalah bagi masyarakat ketika berpindah tempat. Tidak jarang, lahan orang lain ditempati tanpa mereka sadari.

Rustamadji yang menjadi ketua Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Sorong melihat kampung itu pada tahun 2007. Ada sekitar 350 warga asli yang didominasi Muslim dan selebihnya beragama Kristen. Rustamadji prihatin karena Suku Kokoda ternyata tinggal di tanah yang tidak mereka miliki. Padahal, mereka adalah suku asli Papua.

Pada awalnya Rustamadji kerap dicemooh saat mencoba membantu suku tersebut. Mereka berbisik jika Kokoda hanya akan menjadi masalah baru bagi warga.

“Kalau kita tidak peduli terhadap mereka, tentu mereka akan lebih parah kondisinya. Jadi, kita harus berbuat sesuatu untuk Suku Kokoda," kata Rustamadji mengutip saaat diwawancara harian Republika pada Senin (22/4)..

Pada awal perjuangannya Rustamadji bersama STKIP Muhammadiyah Sorong membangun masjid di Kampung Warmon Kokoda pada 2008. Mayoritas Suku Kokoda sudah memeluk agama Islam, tapi pemahamannya tentang agama terbilang minim. Seiring berjalannya waktu, masjid pun menjadi tempat belajar bagi anak-anak Kokoda. Mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sorong dilatih agar bisa memberikan pendidikan kepada mereka.

Saat berupaya membangun sekolah, Rustamadji kembali diuji. Prosesi pembangunan TK dan SD berhenti beberapa waktu karena kehabisan dana.

Besi-besi fondasi bangunan justru dijarah orang-orang Kokoda. Mereka tidak paham akan pentingnya keberadaan bangunan sekolah di kampung itu. Besi-besi itu bahkan dijual untuk membeli rokok.

Peristiwa itu tidak membuat tekad Rustamadji surut. Semangatnya justru terbakar untuk makin serius membangun Suku Kokoda. Dia menilai, mereka adalah masyarakat yang ekstrem. Dibutuhkan upaya ekstra, ekstrem, dan serius untuk membantu serta membangun karakter mereka agar menjadi lebih maju.

Rustamadji menceritakan, saat TK Lab School dan SD Lab School berdiri, anak-anak Kokoda tidak langsung terbiasa dengan kegiatan belajar dan mengajar di dalam kelas. Saat mahasiswa STKIP Muhammadiyah datang, tidak semua siswa mau ke sekolah. Tugas mahasiswa menjadi ekstra karena harus menjemput murid-muridnya di rumah masing-masing. Mereka harus sabar membujuk anak didiknya agar mau belajar di dalam kelas.

Pada 2018 STKIP Muhammadiyah Sorong menjadi Universitas Pendidikan Muhammadiyah (Unimuda) Sorong. Rustamadji didaulat menjadi rektor. Perubahan status ini tidak menghentikan upaya pembinaan kepada Suku Kokoda. Bersama Unimuda, Rustamadji bahkan menambah harapan baru agar warga Kokoda bisa mendapat mata pencaharian yang layak.

Namun, ujian yang dihadapi Rustamadji tidak berhenti. Dia menceritakan, suatu ketika, masyarakat Kokoda dilatih beternak. Mereka diberi beberapa ekor sapi untuk dikembangbiakan. Tapi, sapi yang dipelihara mereka mati dan tidak tumbuh sehat.

Perjuangan selanjutnya berhasil mendapat bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Sebanyak 57 rumah permanen telah berdiri untuk masyarakat Kokoda. Mereka bisa hidup menetap di rumah permanen yang layak.

Suku Kokoda juga telah mendapatkan dana desa. Mereka sedang berusaha membuat bagan atau alat penangkap ikan di laut. Masyarakat pun bisa panen ikan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Kiprah Rustamadji membangun karakter masyarakat Kokoda membuahkan hasil. Perlahan, citra negatif Suku Kokoda pudar. Mereka makin optimistis menata dan menatap masa depan setelah mendapat sentuhan Muhammadiyah.

Berkat kegigihannya mensejahterakan suku Kokoda, Rustamadji berhasil terpilih sebagai Tokoh Perubahan Republika 2018. Penghargaan bergengsi tersebut diraih Rustamadji karena dinilai berjasa dalam mempertahankan eksistensi suku asli Kokoda di Papua Barat. (a'an/adam)

Shared:
Shared:
1