IPM Tangsel Gelar Pesantren Literasi

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 19 Mei 2019 12:13 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, TANGERANG -- Kerjasama dengan Asian Ministers of Education Organization Regional Open Learning Center (SEAMOLEC) Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhamamdiyah (PD IPM) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) selenggarakan Pesantren Literasi 'Workshop Kepenulisan Kreatif' mulai tanggal 18 sampai 19 Mei 2019 di Kompleks Universitas Terbuka, Jl. Cabe Raya, Pondok Cabe. Pamulang. Tangsel.

Fashil Hafiy Edrian, Ketua PD IPM Kota Tangsel mengatakan bahwa, diselengarakannya acara ini sebagai implementasi perintah membaca di dalam al Qur'an. Pemilihan waktu pada bulan Ramadhan juga berkiatan dengan diturunkannya perintah membaca, 'iqra pada Surat al Alaq' ayat 1. Meski ada perintah demikian, menurutnya semangat membaca dikalangann masayrakat Indonesia, khususnya umat Islam masih minim.

Hal tersebut kemudian menjadi alasan untuk mengiatkan 'jihad literasi', salah satunya melalui acara Pesantren Literasi. Hafiy menjelaskan, literasi yang mereka angkat bukan hanya soal membaca, menulis dan berdiskusi buku semata. Melainkan membaca seluruh yang beredar di muka bumi, terlebih tentang kemajuan teknologi 4.0.

"Memasuki era revolusi 4.0, pelajar sekarang harus peka terhadap literasi teknologi. Agar tidak ketingalan informasi dan menjadi pelajar yang keren dan berkemajuan,” ungkapnya.

Sementara, Alpha Amirrachman, Direktur SEAMOLEC menerangkan bahwa, data statistik dari ikatan pengusaha penyedia jasa internet mencatat sebanyak 70% internet digunakan untuk hal-hal sosial networking, dan selebihnya digunakan untuk kegiatan internet produktif. Hal ini terlihat 'jomplang' dengan porsi pengunaan internet di negara-negara berkembang lainnya, dimana pengunaan internet disana dimanfaatkan untuk hal-hal produktif.

"Negara yang sudah maju, bahkan negara yang berkembang seperti Vietnam sekalipun, internet sudah dipakai untuk hal-hal yang produktif tidak hanya sekedar ngerumpi, chatting dan lain-lain,” ucapnya.

Alpha menambahkan, di era internet sekarang ini menjadikan manusia semakin pragmatis dan segala menjadi instan. Hal ini menyebabkan minat membaca menjadi turun, sehingga persebaran berita bohong atau hoak cepat terdistribusi. Disebabkan orang tidak kuat membaca tulisan atau narasi yang panjang. Padahal dalam menerima suatu berita dibutuhkan pemahaman yang mendalam dan diperlukan penyaringan terlebih dahulu.

Maka, menurut Alpha, sekarang ini harus mengembalikan posisi manusia sebagai mahluk yang berpikir dan berkontemplasi. Karena sifat tersebut yang membedakan antara manusia dengan mahluk Tuhan yang lain. Untuk menyaring dan memisahkann kebaikan dan keburukan yang terjadi di era sekarang ini, manusia khususnya umat Islam harus kembali merujuk kepada kitab sucinya, al Qur'an. Yang didalamnya terkandung konsep-konsep dasar dalam menolak keburukan yang bisa mengancam manusia.

Alpha juga berpesan untuk senantiasa menguatkan 'iqra atau dibahasakan dengan kata litrerasi. Semangt menulis kebaikan juga perlu digelorakan sebagai upaya mengcounter isu-isu atau berita bohong. (a'n)

Shared:
Shared:
1