Berproses di Muhammadiyah Ibarat Mengolah Kelapa Hingga Menjadi Santan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 19 Mei 2019 11:17 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, ACEH — Mengambil momentum Ramadhan, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh adakan Kemah Ramadhan yang ke-4 bagi kader-kadernya. Kemah yang ke-4 kalinya ini memilih Kabupaten Bireun sebagai lokasi karena Bireun merupakan daerah yang berusia relatif masih muda, namun geliat Muhammadiyah di sini luar biasa.

Hal tersebut disampaikan oleh Aslamnur, perwakilan PWM Aceh dalam sambutan pembukaan yang dilaksanakan pada Jum’at (17/5) di Gedung SDIT Muhammadiyah Bireun.

“Ini adalah wilayah pemekaran pada tahun 1999. Dan berbagai kegiatan Muhammadiyah terus berkembang. Dari sini kita belajar bagaimana cara menghidupkan kembali Muhammadiyah,” katanya.

Aslamnur mengungkapkan bahwa, Kemah Ramadhan ini sebagai momen memperkuat jalinan silaturahim jama’ah atau warga persyarikatan Muhammadiyah di Aceh. Menurutnya, modal besar yang dimiliki oleh Muhammadiyah selain dari melimpahnya jumlah Amal Usaha, juga basis jama’ah yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Modal tersebut menjadikan Muhammadiyah sebagai organisasi yang mampu mengurus dirinya sendiri.

Hadir sekaligus membuka acara ini, Agus Taufiqurrahman, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengatakan, dalam berMuhammadiyah merupakan proses panjang ynag harus dijalani oleh para kadernya. Proses tersebut merupakan jenjang yang harus dilewati untuk menjadi lebih dari keadaan sebelumnya.

Taufiqurrahman menganalogikan,berproses di Muhammadiyah ibarat pemrosesan kelapa sampai menjadi santen yang bersih dan siap disantap oleh manusia. Dimulai dari pemetikan yang sulit, pengumpulan dengan dilempar kesana-kemari, dikupas memakai benda tajam, diparut dan diperas.

Tahapan itu harus dilewati tidak boleh ada yang terlewat, karena akan memengaruhi kualitas kader yang terbentu. Maka sebagai kader harus mampu untuk ikhlas dan kuat dalam niat. Kemah yang diselengarakan oleh PWM Aceh ini, Agus Taufiq berharap setiap kegiatannya sebagai implementasi dari ajaran al Qur’an yang mencerahkan dan mengembirakan.

“Al Qur’an sebagai kitab suci yang fungsinya bukan hanya untuk dibaca dan dihafalkan, tapi juga diimplementasikan. Sehingga Islam menjadi agama yang mencerahkan dan mengembirakan,” pungkasnya. (a'n)

Shared:
Shared:
1