Karakteristik Islam Berkemajuan Memiliki Komitmen Kejujuran dan Pikiran yang Rasional

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 13 Mei 2019 16:25 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, JAKARTA - Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UIN SA) Surabaya, Achmad Jaenuri, klaim Islam sebagai agama universal yang mencakup seluruh aspek kehidupan berlaku sepanjang masa untuk semua manusia dan menembus batas geografis harus diaktualisasikan.

Maknanya adalah Islam bukan hanya sebagai agama yang mengatur masalah ritual hubungan antara mahluk dan Tuhannya. Komitmen Islam sebagai ajaran universal mencakup seluruh aspek kehidupan yang dengannya bisa dijadikan pedoman. Maka, dalam memandang Islam bukan hanya yang ada dalam al Qur'an saja, karena secara paradigmatik kitab suci itu tidak harus membicarakan sesuatu secara detail.

"Misalkan perintah untuk sholat, didalam Qur'an tidak dijelaskan secara detail bagaimana aturan sholat itu." Ungkapnya pada (13/5) pada Pengkajian Ramadhan 1440 H yang diselengarakan oleh PP Muhammadiyah.

Maka didalam memahami al Qur'an dibutuhkan instrumen dari sumber keilmuan lain. Sehingga memaknai agama bisa menjadi luas, tidak menyempitkan agama Islam itu sendiri. Selain itu, karakteristik Islam Berkemajuan adalah umat yang memiliki komitmen terhadap kejujuran, kebenaran, literasi, kemudian mampu menerima perubahan, memiliki orientasi jangka panjang, dan rasional.

"Islam Berkemajuan juga sebuah semangat yang ingin selalu berhasil didalam setiap melakukan pekerjaan. Namun permasalahan saat ini bagi Muhammadiyah adalah, apakah warga persyarikatan memiliki keinginan seperti itu. Karena pada faktanya, masih ada warga Muhammadiyah yang masih sulit menerima kemajuan itu. Contohnya adalah masih adanya orang Muhammadiyah ketika menerima undangan rapat tidak mau melalui media sosial, mereka masih menginginkan surat kertas." Tegasnya

Menelisik era post truth, Achmad Jaenuri menjelaskan bahwa, era ini merupakan koreksi dari era modern yang mengkalim sebagai era yang paling benar dan hanya sepihak. Sehingga era post truth menjadi era yang mengarah pada puralitas total, yaitu pengakuan bahwa disetiap keadaan pasti kebenaran yang terselip, serta terdapat perbedaan dalam memehami kebenaran dan memahami keanekaragaman pada manusia.

"Kuncinya memahami, bukan mengakui. Sehingga hal ini menjadikan manusia memiliki sikap toleransi." Katanya

Maka al Qur'an dibutuhkan sebagai penuntun utama yang mengajarkan kepada manusia untuk berlaku arif dan bijaksana dalam menyikapi perbedaan. Sehingga di era yang abu-abu, simulakra. Manusia memiliki guiden, al Qur'an untuk mengarahkan kompas kehidupan kearah kesejatian. 

Shared:
Shared:
1