Islam Berkemajuan Sebagai Solusi di era Post Truth

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 13 Mei 2019 16:19 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, JAKARTA - Muhammadiyah sebagai sumber kekuatan, sumber inspirasi, dan sumber energi untuk mengembangkan Islam berkemajuan. Yaitu pandangan keberagamaan yang tidak melepaskan dari nilai-nilai lokal kultural. Sehinga Muhammadiyah dengan hadirnya mampu menciptakan suasana yang kondusif, menyenangkan dan mengembirakan.

Hal tersebut dikemukakan oleh Malik Fajar, Mantan Rektor Univeritas Muhammadiyah Malang (UMM) pada (13/5) dalam acara Pengkajian Ramadhan 1440 H oleh PP Muhammadiyah di Institue Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB AD) Jakarta.

"Hadirkan Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan yang mengembirakan dan menyenangkan, tidak menghakimi. Yang menarik diri kepada sikap whasatiyah sebagai pandangan solutif di era post truth  seperti sekarang ini." Ungkapnya

Menurutnya, post truth sudah hadir jauh sebelum sekarang, hanya saja mengalami pergeseran istilah. Malik Fajar menyakini, konsep berkemajuan yang digagas oleh Muhammadiyah memiliki kompatibilitas terhadap arah pergeseran zaman. Sehingga sebagai warga persyarikatan tidak perlu mencari sumber pemahaman lain untuk bisa bertahan dan berakselerasi pada zaman-zaman yang akan datang.

Meneguhkan pribadi muslim berkemajuan di era post truth, Alpha Amirrachman, Direktur South Asian Ministers of Education Organization Learning Center (SEAMOLEC) mengatakan bahwa, berkemajuan merupakan sebuah konsep yang solutif dan bisa menjawab tantang pada setiap zaman dan keadaan.

Merujuk pada ajaran Ahmad Dahlan, pribadi berkemajuan merupakan insan/persona yang mentatai ajaran agama dan mengikuti pergerakan zaman. Karena memakai agama sebagai kompas dalam mengarungi samudera kehidupan, konsep berkemajuan bermuara pada terciptanya manusia yang bertaqwa. Hal ini menjadi kunci penting dalam menyikapi situasi politik dan post truth  yang sedang melanda manusia saat ini.

"Ketika dulu sebelum abad 21, retorika politik masih dipenuhi dengan intelektualitas yang bisa dipertangguung jawabkan. Kini, retorika politik dipenuhi dengan elaborasi pengaduk emosi yang tidak terkendali dan data-data yang tidak terpenuhi aspek kebenarannya." Tambahnya

Bergesernya fact kepada fake menjadi nyata dan mudah ditemukan di era kekinian. Pelibatan emosi yang dimunculkan dari indentitas-indetitas yang disekematisasi, membuat era post truth beriringan dengan isu-isu pemisahan nilai-nilai kemanusiaan yang sifatnya universal, menjadi kamanusiaan yang hanya mementingkan golongan. Keberpihakan absolut terhadap golongan sendiri kemudian memiliki potensi akan pertumpahan dan perpecahan.

Maka, konsep tabayyun yang ditawarkan oleh al Qur'an menjadi solusi yang tidak dapat ditawar lagi. Serta taffaqur, yaitu pengaktifan akal dan nalar disetiap menerima informasi yang datang. Sehingga arus besar yang membawa manusia kepada perpecahan bisa dihindari atau bahkan dihiliangkan. 

Shared:
Shared:
1