Wasathiyyah Islam Sebagai Bentuk Kehadiran Islam di Tengah Peradaban Dunia

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 13 Mei 2019 16:14 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, BANTEN -- No global peace without national peace. Indonesia sebagai negara yang memiliki penduduk mayoritas Islam diharapkan hadir untuk menyuarakan Perdamaian Islam pada dunia global. Salah satu cara yang ditempuh yakni dengan menyuarakan Wasathiyyah Islam.

Dalam wasathiyyah Islam ada penekanan pada salah satu watak dalam Islam. Dan demikian (pula) kami menjadikan kamu (umat Islam) ummatan wasathan (umat yang adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan manusia) dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…. (Qs. Al-Baqarah 143).

“Harus kita buktikan kepada dunia bahwa kita adalah ummat wasatho. Ini adalah misi yang harus kita pertanggungjawabkan,” tutur Din Syamsuddin, Ketua PP Muhammadiyah 2005-2015 pada materinya di Pengkajian Ramadhan PP Muhammadiyah bertempat di Aula Syafruddin Prawiranegara, Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB AD) Ciputat, Senin (13/5).

Din mengatakan bahwasannya wasathiyyah Islam itu meliputi tawasuth yakni tidak melebih-lebihkan dan tidak mengurang-ngurangkan dalam beragama. “Sikapnya I’tidal kira-kira berpegang teguh pada kebenaran dan penegakan keadilan. Jadi walaupun ummat wasatho tidak berarti lemah atau lembek tapi I’tidal,” kata Din.

Kemudian wasthiyyah Islam juga mengandung makna tawazzul yakni keseimbangan yang luar biasa. Selain itu juga mengandung tasamuf yang memiliki makna bertenggang rasa. “Sedapat mungkin berdiskusi. Kalau diskusi tidak membuahkan hasil ya kembali, jika dengan umat non Islam kita lakum diinukum wa liya diin (untukmu agamamu, untukku agamaku). Tapi kalau dengan sesama muslim bagimu pendapatmu bagiku pendapatku tapi kita tetap bersaudara,” imbuhnya.

Pada kenyatannya Islam melakukan perbaikan, Islam turut serta melakukan rekonstruksi dan rehabilitasi terhadap kerusakan-kerusakan yang ada. Wasathiyyah Islam menjadi salah satu yang penting sebagai bentuk kehadiran Islam ditengah peradaban dunia.

“Kita akan tawarkan wasathiyah Islam ke dunia. Jalan tengah terhadap solusi peradaban dunia karena peradaban dunia sekarang ini sedang rusak. Kerusakan dunia juga dinilai akumulatif. Dengan dunia yang seperti itu, maka wasathiyatul Islam menjadi modal untuk persatuan,” jelas Din.

Din juga menegaskan seyogyanya di Indonesia ini kita mengamalkan pancasila karena pancasila memiliki nilai Islami. Didalam Pancasila juga mengandung unsur Wasathiyyah Islam.

“Ini semua menuntut adanya realisasi didalam negeri kalau kita tidak bisa mewujudkan didalam negeri tidak bisa kita berjalan keluar. Dalam kaitan itu saya mengharap betul bangsa ini betul-betul berpegang pada pancasila. Jangan sampai proses bernegara menyimpang dari proses konsitusi. Muhammadiyah saatnya menerapkan salah satu visi ali Imron 104, wa ya`murụna bil-ma'rụfi wa yan-hauna 'anil-mungkar. Inilah wasathiyah untuk perdamaian global dan nasional,” paparnya.

Senada dengan, Din, Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi publik Kementrian Luar Negeri Cecep Hendrawan mengatakan bahwa Indonesia memiliki peran penting meluruskan pemahaman Islam yang hakiki pada dunia global.

“Kita ini adalah negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia, kita ini adalah negara majemuk yang harmonis dan toleran satu dengan yang lain, kita juga negara demokrasi terbesar di dunia. Kita patut mensyukuri karena mendapat stabilitas ekonomi, politik, dan keamanan yang cukup baik. Kita punya modal yang tidak dimiliki negara lain,” kata dia.

Menurutnya, dalam menjawab tantangan peran penting tadi, semua elemen ummat Islam harus terus menyuarakan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

“Indonesia sampai dengan hari ini selalu diminta menjadi negara mitra untuk melakukan dialog lintas agama. Dari sini kita dapat menunjukkan kepada negara lain bahwa Indonesia adalah mukmin dengan Islam yang rahmatan lil alamin,” pungkasnya. (Syifa)

Shared:
Shared:
1