Pendidikan Karakter Kunci Membangun Keadaban Bangsa

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 13 Mei 2019 11:54 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, JAKARTA - Memasuki materi ketiga Pengkajian Ramadhan Pimpinan Pusat Muhammadiyah di ITB Ahmad Dahlan Jakarta, Senin (13/5), tema yang diangkat adalah Reinvensi Pendidikan Nasional Untuk Penguatan Karakter dan Keadaban Bangsa.

Ketiga narasumber yakni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Mendikbud RI) Muhadjir Effendy, Rektor Universitas Indonesia (UI) Muhammad Anis dan Rektor Universitas Al Azhar Indonesia Asep Saifudin (UAI) sepakat bahwa pendidikan karakter adalah kunci dalam membangun keadaban bangsa.

"Akan tetapi masalah pendidikan karakter tidak sederhana. Harus kita akui pendidikan karakter belum maksimal. Terutama karakter etika anak milenial yang cenderung kurang jika dibandingkan dengan anak di masa lalu," ungkap Rektor UI Muhammad Anis.

Mendukung pernyataan Anis, Rektor UAI Asep Saifudin menyebut bahwa tantangan zaman semakin pelik sehingga Pendidikan Karakter yang merupakan sifat dalaman (sikap batin) berupa nilai iman, takwa dan kejujuran perlu lebih digiatkan.

"Apalagi sekarang kita menghadapi kompleksitas sifat ambigu di era revolusi industri 4.0. Teknologi itu penting karena bisa menjadi manfaat tapi jika tanpa karakter manusianya yang baik malah akan menjadi musibah," tegas Asep.

Solusi Pendidikan Karakter

Mendikbud RI Muhadjir Effendy tidak menyangkal bahwa Pendidikan Karakter merupakan hal penting yang kurang serius digarap.

"Ya memang lama hanya menjadi topik dan tidak pernah dieksekusi sehingga ketika saya mulai menjabat (Mendikbud),  PPK (Program Pendidikan Karakter) dilakukan untuk menyiapkan SDM," ungkap Muhadjir.

Rektor UI Muhammad Anis menyampaikan bahwa institusi pendidikan harus berada di depan dalam pendidikan karakter dengan komitmen yang jelas.

"Harus menjadi kebiasaan. Harus ada dukungan dari lingkungan dan kesadaran diri sendiri," jelas Anis.

"Guru itu maka menjadi penting sekali. Pendidikan Karakter iman, takwa integritas, nasionalisme itu perlu guru yang baik. Maka perlu juga ada pusat pendidikan guru untuk mengasah soft skill dan perhatian besar pada peningkatan kesejahteraan guru," imbuh Rektor UAI Asep Saifudin. (Afandi)

Shared:
Shared:
1