Muhammadiyah Sebagai Basis Ummat Wasatho

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 13 Mei 2019 11:43 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, BANTEN – Pada dasarnya semua ajaran Islam itu bersifat Wasatho (pertengahan). Wasathiyah Islamiah menjadi karakter umum dari agama Islam itu sendiri karena memiliki posisi wasathiyah itu sangat penting. Gagasan tersebut merujuk pada Qs. Al-Baqarah 143.

“Di dalam al-Qur’an sendiri banyak dirujuk konsep ummah yang didalamnya ada konsep ummat wasatho. Sementara konsep ummah sendiri ada enam diantaranya, ummat muslimat, ummat wasatho, ummat wahidat, khaira ummat, ummat qa’immat, dan ummat muftashidat,” ungkap Dadang Kahmad, Ketua PP Muhammadiyah dalam penyampaian materi Islam Wasathiyah pada kegiatan Pengkajian Ramadhan PP Muhammadiyah bertempat di Aula Syafruddin Prawiranegara Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB AD) Ciputat , Ahad (12/5).

Dalam Muhammadiyah dipahami bahwa masyarakat Islam maupun masyarakat madani atau civil society memiliki karakter yang sama, yaitu masyarakat yang menjunjung tinggi kemajemukan agama dan pemihakan terhadap kepentingan seluruh elemen masyarakat, perdamaian dan nir-kekerasan, serta menjadi tenda besar bagi golongan dan kelompok masyarakat tanpa diskriminasi.

“Orang-orang Muhammadiyah itu berusaha menjadi wasathiyah dengan cara seperti itu. Boleh berusaha menjadi yang benar tetapi dengan penuh kasih sayang. Dilarang menjadi orang yang merasa paling benar tetapi penuh kebencian kepada orang lain,” kata Dadang.

Negara ini dibangun oleh berbagai macam ideologi, oleh karena itu setiap orang berhak mendapat perlakuan yang setara, toleran saling menghormati. Lebih utama mengandalkan kerjasama dan pertemanan, mengusahakan dialog dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

“Yang perlu didahulukan adalah amar ma’ruf dulu, sebelum kita mencegah mereka berobat ke dukun, maka sediakan dulu klinik, sehingga kita arahkan mereka berobat ke klinik dan kita cegah mereka pergi ke dukun,” urainya.

Pada dasarnya, orang-orang wasathiyah ini memiliki etika universal. Aktualisasi etika universal ini di antaranya, menggunakan kata-kata santun dalam berbicara, rendah hati, membebaskan penderitaan orang lain, bahagia dalam kebahagiaan orang lain, dan memperlakukan semuanya dalam kasih sayang yang sama.

Sementara itu Abdul Mu’ti Sekretaris Umum PP Muhammadiyah mengatakan bahwa Indonesia sudah sangat maju dalam urusan kerukunan umat beragama. “Ada beberapa  research dikatakan bahwa nilai kerukunan umat beragama sudah baik di angka 70 tetapi ada research lain bahwa intoleransi justru muncul di intern umat beragama,” ungkap Mu’ti.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi ummat Islam. Ada geja;a di kalangan ummat untuk bergerak ke arah ekstrim baik kekanan maupun kekiri. Jadi realiyas keummatan ini cenderung ekstrim bahkan radikal.

Pola gerakan juga cenderung konfrontatif. Mengapa demikian? Dijelaskan Abdul Mu’ti setidaknya ada lima hal yang menyebabkannya, diantaranya Ada akumulasi dari kekecewaan dan ekskalasi dari berbagai masalah ummat yang menganggao Pemerintah tidak aspiratif kemudian protektif pada minoritas.

“Kemudian aparat juga cenderung represif dan tidak preventif. Misalnya kalau ada tokoh tertentu sedikit bergerak langsung menjadi tersangka atau jika ada gerakan tertentu dianggap makar,” kata Mu’ti.

Selanjutnya, Partai yang berbasis Islam itu kurang aspiratif terhadap ummat. Maka ummat memilih langsung turun kejalan. Selain itu juga ummat sering diperalat oleh elit maka jumlah dukungan massa jadi dukungan politik.

“Kita juga miskin strategi. Kalau dalam dakwah selalu pendekatannya tradisional. Seperti saya pernah mengisi pengajian yang disana jamaahnya sedikit tetapi disiarkan ke seluruh kampung,” pungkasnya. (Syifa)

 

Shared:
Shared:
1