Revitalisasi Perkaderan di PTM

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 11 Mei 2019 00:11 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL – Asep Purnama Bahtiar, Wakil Ketua Majelis Pendidikan Kader (MPK) PP Muhammadiyah, mengatakan bahwa kaderisasi itu berjalan di dua tuntutan, yakni ideologisasi dan transformasi.

“Padahal pilar perkaderan itu pimpinan yang utama, karena keberhasilan pimpinan diliat juga dari seberapa banyak kader yang dihasilkan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan Muhammadiyah,” ungkapnya, dalam agenda Pengajian PP Muhammadiyah bertempat di aula Masjid KH. Ahmad Dahlan Universtas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (11/5).

Asep mengingatkan para pimpinan untuk menyadari bahwa Persyarikatan  berada dalam ruang dan konteks yang selalu bergerak dan berubah. Hal ini terjadi karena terkadang dipengaruhi faktor-faktor dari luar.

Sementara itu sebenarnya, potensi kaderisasi yang dimiliki Muhammadiyah sangatlah besar. Terutama potensi kaderisasi dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) yang telah memiliki puluhan ribu mahasiswa. Melihat potensi kaderisasi yang begitu besar ini, masih perlu dilakukan revitalisasi perkaderan di PTM.

“Semua perguruan Muhammadiyah tidak hanya sebagai penyelenggara pendidikan saja tetapi juga kaderisasi,” kata Asep.

Perkaderan, lanjut Asep,  hakikatnya selalu terkait dengan pembinaan pimpinan secara terprogram. Meliputi pembinaan ideologi, pimpinan, membangun kekuatan dan mengoptimalkan sistem kaderisasi, dan pengembangan kualitas juga kuantitas kader Muhammadiyah sebagai sumber daya. Maka, disini yang menjadi poin besar bukan sekedar ideologisasi tetapi bagaimana nilai yang diwariskan termanifestasikan dalam kehidupan kader maupun amal usaha.

Sementara Muhammad Sayuti, Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah mengatakan bahwa menggarap kaderisasi di PTM ini memiliki potensi besar apalagi jika disinergikan dengan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

Keterlibatan kader Persyarikatan di AUM atau PTM harus dilandasi atas nilai-nilai tauhid. Nilai-nilai ketauhidan ini penting ditanamkan di semua level pimpinan Muhammadiyah.

“Majelis Diktilitbang bersama MPK mencoba membangun hal konstruktif tetapi pada kenyataannya MPK terlalu berat menanggung beban perkaderan AUM. Kita nggak bisa menunggu proses kaderisasi PTM tanpa memulai melatih pimpinannya sehingga pimpinan harua dilatih terus menerus. Tanpa kita latih para pimpinan PTM maka pesan kaderisasi ini bisa tidak terwujud. Proses kaderisasi ini harus dilakukan dari dalam,” jelasnya lagi.

Sayuti mengungkapkan bahwa kaderisasi berbasis asrama menjadi salah satu cara kaderisasi yang sangat strategis.

“Dosen-dosen Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) kita latih menjadi instruktur perkaderan sehingga bisa melakukan baitul arqom untuk dosen-dosen universitas sendiri. Kenapa Dosen AIK? Karena ngajar AIK sudah bertahun-tahun masak tidak diberi sertifikat sebagai pelatih. Sehingga kita berdayakan untuk bisa melatih Dosen atau Mahasiswa lainnya,” pungkasnya. (Syifa)

Shared:
Shared:
1