Risalah Pencerahan sebagai Tameng Atas Gejala Praksis dan Disrupsi

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 11 Mei 2019 13:47 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL - Cendekiwan dan Guru Besar Universitas Negeri Islam (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra mengatakan semangat ber-Islam merujuk kembali kepada al Qur’an dan As Sunnah lebih cenderung terbelengu sejarah yang mengekang imajinasi kreatif. Bukan mengarah kepada kemajuan dan pencerahan.

Dari sudut orientasi, kembali ke belakang: al-ruju ila al-Quran wa al-sunnah (yang biasanya diiringi dengan pemahaman salaf al-shalih). Namun, berbeda pada manhaj Muhammadiyah. Pemahaman al-ruju ila al-Quran wa al-Sunnah dipahami dengan seperangkat manhaj tarjih.

“Kembali kepada Qur’an dan Sunnah dengan membangkitkan imajinasi kreatif,” jelasnya dalam acara Pengajian Ramadhan PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jum’at (10/5).

Meski ditemukan fakta demikian, Azra menilai semangat kembali kepada al Qur’an dan As Sunnah yang digelorakan oleh Muhammadiyah ini sudah semakin baik. Karena semangat puritan yang dilakukan oleh Muhammadiyah memiliki aspek pencerahan dan berkemajuan. Semangat tersebut diimplementasikan menjadi sebuah Amal Usaha yang  modern dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi. 

Al-ruju ila al-Qur’an wa al-Sunnah oleh Muhammadiyah justru menghasilkan kemajuan. yang jarang ditemukan di organisasi Islam lain. Hal ini perlu dipahami oleh segenap warga Muhammadiyah di masa sekarang.

Muhammadiyah memiliki amal usaha yang berkualitas dan berdaya saing. Kita harus bersyukur, Muhammadiyah memiliki Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah yang besar dan membanggakan, bahkan mengungguli Perguruan Tinggi Negeri.

“Pada tahun 70-an, kalau ada perguruan tinggi yang baik, itu pasti bukan milik orang Islam, pasti itu Katolik, pasti itu Protestan atau Kristen. Sekarang kita sudah hapuskan mitos itu,” ungkap Azra. Di sinilah pentingnya peran pencerahan Muhammadiyah dengan orientasi pandangan Islamnya yang berkemajuan.

Hal yang juga sangat patut disyukuri adalah terkait dengan kedudukan dan posisi perempuan Muslim di Indonesia. “Di Indonesia perempuan benar-benar dihargai, ini perlu disyukuri,” katanya. Di banyak negara Muslim, perempuan justru mengalami diskriminasi dan peminggiran dari ruang publik. Muhammadiyah sejak awal berdirinya telah mempelopori kebangkitan kaum perempuan.

 “Aisyiyah yang sudah memiliki Universitas Aisyiyah bisa menjadi lokomotif kemajuan perempuan Muslim untuk disebarluaskan ke seluruh dunia,” jelas Azra.

Semangat ber-Islam yang otentik sesuai al-Qur’an dan Sunnah yang dilakukan oleh Muhammadiyah adalah sebuah orientasi pembebasan dari belenggu yang mengekang. Karena pemahaman teks yang berasal dari dua sumber utama Islam tidak dilakukan secara leterlek. Sehingga semangat Islam ala Muhammadiyah selalu kompatibel dengan keadaan zaman yang sedang berjalan.

“Di era keterbukaan informasi, banyak mempengaruhi terkait pemahaman yang tidak utuh para generasi muda saat ini. Hal ini karena keterpotongan atau tidak utuhnya informasi yang mereka terima.” Katanya

Terpotongnya gagasan yang didistribusi kepada generasi muda memiliki kaitan erat dengan muatan yang ingin disampaikan oleh pemiliki media tersebut. Bertolak dari fakta tersebut, Muhammadiyah perlu melakukan konsolidasi yang bukan hanya membahas persoalan praksis. Melainkan konsolidasi yang secara utuh untuk mengetahui secara detail dalam persoalan risalah pencerahan yang lebih komprehensif.

Risalah pencerahan harus dirumuskan sebagai upaya memperkuat tameng atas gejala praksis, yang kemudian juga dirumuskan sebagai alat atau tameng yang digunakan untuk membentengi persoalan kekinian tentang ketercerabutan atau disrupsi. Mengingat disrupsi sebagai momok menakutkan bagi ideologi pergerakan yang secara perlahan tercerabut dan tergerus-kikis mengikuti gerak zaman.

Shared:
Shared:
1