Risalah Pencerahan Muhammadiyah Muncul dari Berkembanganya Amal Usahanya

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 11 Mei 2019 01:57 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL — Cendekiwan dan Guru Besar Universitas Negeri Islam (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra mengatakan semangat ber-Islam merujuk kembali kepada al Qur’an dan As Sunnah lebih cenderung terbelengu sejarah yang mengekang imajinasi kreatif. Bukan mengarah kepada kemajuan dan pencerahan.

Meski ditemukan fakta demikian, semangat kembali kepada al Qur’an dan As Sunnah yang digelorakan oleh Muhammadiyah ini sudah semakin baik. Karena semangat puritan yang dilakukan oleh Muhammadiyah memiliki aspek pencerahan dan berkemajuan. Semangat tersebut diimplementasikan menjadi sebuah Amal Usaha yang jarang ditemukan di organisasi Islam lain.

“Aspek pencerahan Muhammadiyah akan nampak ketika menunjukan imajinasi kreatif, berkemajuan, dan mencerahkan dalam bentuk amal usaha. Terlebih yang menghidupkan nalar berpikir, yaitu amal usaha di bidang Pendidikan,” ujarnya dalam acara Pengajian Ramadhan PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jum’at (10/5).

Semangat ber-Islam yang otentik sesuai al-Qur’an dan Sunnah yang dilakukan oleh Muhammadiyah adalah sebuah orientasi pembebasan dari belenggu yang mengekang. Karena pemahaman teks yang berasal dari dua sumber utama Islam tidak dilakukan secara leterlek. Sehingga semangat Islam ala Muhammadiyah selalu kompatibel dengan keadaan zaman yang sedang berjalan.

“Di era keterbukaan informasi, banyak mempengaruhi terkait pemahaman yang tidak utuh para generasi muda saat ini. Hal ini karena keterpotongan atau tidak utuhnya informasi yang mereka terima.” Katanya

Terpotongnya gagasan yang didistribusi kepada generasi muda memiliki kaitan erat dengan muatan yang ingin disampaikan oleh pemiliki media tersebut. Bertolak dari fakta tersebut, Muhammadiyah perlu melakukan konsolidasi yang bukan hanya membahas persoalan praksis. Melainkan konsolidasi yang secara utuh untuk mengetahui secara detail dalam persoalan risalah pencerahan yang lebih komprehensif.

Risalah pencerahan harus dirumuskan sebagai upaya memperkuat tameng atas gejala praksis, yang kemudian juga dirumuskan sebagai alat atau tameng yang digunakan untuk membentengi persoalan kekinian tentang ketercerabutan atau disrupsi. Mengingat disrupsi sebagai momok menakutkan bagi ideologi pergerakan yang secara perlahan tercerabut dan tergerus-kikis mengikuti gerak zaman.

Shared:
Shared:
1