Khazanah Pemikiran Muhammadiyah dalam Membingkai Kehidupan Keumatan dan Kebangsaan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 10 Mei 2019 10:13 WIB

MUHAMMADIYAH.ID BANTUL – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan, penting bagi warga Muhammadiyah untuk memahami dan menyebarkan kerangka berfikir ideologi Muhammadiyah.

Haedar menerangkan, terdapat beberapa tulisan yang berisi gagasan KH Ahmad Dahlan yang dapat ditemukan dan menjadi kerangka penting dalam memahami ideologi Muhammadiyah, berupa beberapa teks pidato “Kesatuan Hidup Manusia” (terjemahan Abdul Munir Mulkhan) dan 7 Falsafah Ajaran dan 17 Kelompok Ayat Al-Qur’an.

“Sepeninggal Kiai Dahlan, rumusan tentang pemikiran dan ijtihad Muhammadiyah berlanjut dan mengalami proses pematangan secara berkelanjutan. Pada tahun 1927, Muhammadiyah mendirikan Majelis Tarjih, sebuah lembaga yang bertujuan untuk menggali dan merekonstruksi paham keagamaan,” jelas Haedar pada Kamis (9/5) dalam Pengajian Ramadan Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Aula Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Haedar dalam kesempatan itu juga meruntutkan pemikiran-pemikiran Muhammadiyah, yakni diantaranya pada tahun 1938, terdapat rumusan al-masail al-khamsah, yang berisi tentang lima pandangan mendasar tentang ajaran Islam menurut pandangan Muhammadiyah, berupa konsep tentang: agama, dunia, ibadah, sabilillah, dan qiyas (ijtihad). Al-masail al-khamsah disempurnakan pada tahun 1954/1955.

Sementara Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah yang dirumuskan tahun 1946, sudah memunculkan diksi masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Tahun 1969, lahir Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah. Keseluruhan rumusan ideologi Muhammadiyah berlandasakan pada Islam sebagai sumber dan pusat orientasi gerakan.

Dalam aspek strategi perjuangan, dirumuskan Khittah Muhammadiyah tahun 1956, 1971, 1978, dan 2002. Dalam Khittah 2002, disebutkan bahwa perkara politik merupakan al-umur al-dunyawiyah yang harus diurus dengan baik berdasar akhlak islami. Muhammadiyah menjaga kedekatan yang sama dengan semua partai; memainkan peran politik kebangsaan melalui fungsi kelompok kepentingan (interest group), memainkan opini, lobi, dan sebagainya secara elegan dan sesuai dengan kepribadian Muhammadiyah

Ada juga pemikiran resmi lainnya yang bersifat ideologis, berupa Dua Belas Langkah Muhammadiyah (1938), Kepribadian Muhammadiyah (1962), Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (2000), Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Jelang Satu Abad (2005), dan Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua tahun 2010 menegaskan bahwa gerakan pencerahan sebagai strategi abad kedua.

Pada tahun 2015, ungkap Haedar, Muhammadiyah merumuskan tiga dokumen penting, berupa Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi wa al-Syahadah, Indonesia Berkemajuan: Rekonstruksi Kehidupan Kebangsaan yang Bermakna, dan Revitalisasi Visi dan Karakter Bangsa.

Haedar berharap agar khazanah pemikiran dan dokumen resmi yang dikembangkan oleh Muhammadiyah dapat menjadi pemahaman kolektif yang membingkai kehidupan keumatan, kebangsaan, global, dan kemanusiaan universal.

“Muhammadiyah itu salah satu organisasi yang kaya akan konsep-konsep pemikiran yang berakar dari Kiai Ahmad Dahlan,” tuturnya.

“Semuanya lengkap dari hal-hal yang menyangkut paham agama, kebangsaan, hingga hal-hal terkait pandangan kemanusiaan universal. Ini harus dikaji kembali sebagai salah satu matarantai sejak KH Ahmad Dahlan hingga saat ini,” imbuh Haedar.Hal ini menjadi penting untuk menjaga Muhammadiyah agar tidak gamang dalam menghadapi realitas.

“Sering organisasi mengalami peluruhan nilai, stagnasi, dan disorientasi pimpinannya,” ungkapnya. Dalam hal ini, organisasi seperti Muhammadiyah yang kaya akan khazanah ideologi seharusnya mampu untuk bertahan. Pemikiran itu menjadi karakter Muhammadiyah yang meskipun punya kesamaan dengan gerakan Islam lain, namun ada kekhasan Muhammadiyah yang berbeda dengan paham lainnya,” ucap Haedar.

Shared:
Shared:
1